Acceptance dalam Sebuah Hubungan

Seperti biasa saya susah bangun pagi karena susah tidur cepat, dan di pagi buta ini akhirnya justru duduk di depan laptop. Apalagi karena baca tulisan lama di blog Mas Alitt yang sudah lama tidak update jadinya saya pengin nulis. Anyway, ada apa sih Ncep kok keliatannya pengin curhat? Yap, di sini saya tidak ingin ngrasani orang atau ngomongin orang. Saya lebih suka self-center alias narsis ngomongin diri sendiri. Beberapa hari setelah putus, akhirnya saya menemukan beberapa pencerahan tentang penerimaan atau mungkin bahasa kerennya adalah acceptance.

Awalnya saya syok tidak ada angin tidak ada hujan ketika mendekati 1st month anniversary dan sedang menyiapkan kejutan suddenly *dooooor* hilang sekejap dan segera mengurungkan niat. Karena apa? Ya karena ketika saya sedang ngerjain mantan pacar dengan pura-pura dingin terselip kalimat dari lawan bicara saya “sudah ngga cocok, ada yang berubah, dipaksakan tapi tidak *sensor*, and bla bla bla tentang pertengkaran” Yah itulah yang namanya lagi apes, lalu saya termenung dan nyetel lagu lawas Beage – Sendiri Lagi.

Tentang penerimaan, ya memang dulu waktu jadian saya pastinya yang nembak lah ya. I’m not a pussy of course. Ketika saya menyatakan dan diterima oleh dia, dengan sadar bahwa mantan pacar menerima diri saya dengan segudang kekurangan yang tidak tampak dan segelintir kebaikan yang terlihat. Beberapa minggu kita jalanin, awalnya saya sangat kaku karena maklum sudah 5 tahun lebih mulut dan jari ini tidak ngegombal. Dan sekalinya ngegombal jangkrik pun berderik dengan merdu dan suara angin berhembus ria alias garing. Tapi tidak hanya mantan pacar saya yang sedang menerima pribadi yang baru di hidupnya, saya pun juga begitu. Merasa tidak nyambung? Itu ada. Jengkel dengan kelakuan? Itu juga ada. Sebal dengan jadwal kencan? Ya bagaimana lagi? Sama-sama sibuk.

But somehow saya tidak seemosional Nandra yang dulu, meski sempat bertengkar dan itupun karena saya sedang dalam kondisi benar-benar capek di jalan dan mencoba untuk lebih rasional serta toleransi terhadap perbedaan. Saya memang pribadi yang suka berdiskusi dan berdebat, karena dengan begitu harapan saya adalah mampu mengenal pribadi yang satu dengan yang lain selama dalam koridor sopan, tidak menghina, dan tidak main fisik. Namun yang namanya pertengkaran itu mungkin membekas di beberapa orang dan menjadi alasan paling kuat. Saya tidak menghakimi level legawa hatinya seseorang karena saya sendiri sedang dalam proses belajar mengenai hal tersebut. Dan justru pada postingan ini saya bangga terhadap diri saya sendiri *tuh kan bener-bener narsis* Biasanya saya lebih dominan dalam mengambil keputusan, sedikit-sedikit saya yang akan bertindak dan berusaha menjadi equalizer untuk di setiap perkara.

Dan di kasus itu saya benar-benar merasa diuji apakah saya mampu menerima keputusan orang lain? Saya bukan seorang pendengar yang baik, yah at least saya menjadi pembaca pesan yang baik *karena saya minta ngobrol dichat berhubung malam itu tadinya saya sedang packing bunga anggrek anniversary untuk dia, momen yang benar-benar kontras bukan?* Apalagi jika menyangkut orang tersebut tidak dapat menjadi dirinya sendiri, and I can’t let the one who I love is trying so hard but not in her true color. Bukankan salah satu esensi dari mencintai seseorang itu adalah membiarkan pasangannya menjadi dirinya sendiri? If I can’t help her, lalu untuk apa ketika interview menyatakan cinta “saya ingin bertanggung jawab atas kamu” ? Jangan bertanggung jawabnya ketika berhasil membuat anak orang hamil di luar nikah.

Then that night, I decided to accept her words. Since then, that is our decision, not her decision. Sakit iya, sedih iya, senang ngga, bahagia boro-boro bro. Kembali tentang level-up, ya ada banyak sekali kategori penerimaan di malam itu. Menerima diri sendiri atas pendapat orang, menerima perbedaan entah itu kelebihan atau kekurangan, menerima keadaan serta kenyataan, menerima keputusan, menerima kepahitan, menerima alasan, menerima tanpa mendikte apalagi mencurigai untuk hal-hal yang justru akan memperburuk suasana. I don’t take ’em all literally of course, sudah dicerna dan saya anggap sudah dipikir baik-baik oleh lawan bicara saya juga tentunya. Menerima membutuhkan rasa percaya bukan?

So what is the point? Penerimaan itu jangan dilihat dari sudut pandang negatif. Jangan melihat diri sendiri, lihat dulu gambaran besarnya. Karena jika mementingkan diri sendiri sudah pasti bukan acceptance tapi rejection alias penolakan. Pada akhirnya jika dapat menerima diri sendiri, saya percaya saya dapat menerima orang lain. Karena dengan menerima dan legawa, ternyata saya turut dipersiapkan untuk menerima yang lebih baik dengan cara memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s