Hiatus dari IG Lagi? Hapus Donk!

Huffington Post
Huffington Post, Transformasi ke Sosial Media

Saya kira tidak ada teman-teman atau famili yang sadar bahwa akun IG dan Facebook saya mendadak sirna. Ternyata banyak juga yang menanyakan “eh lo block gue ya?”, “gue cariin lo, kirain diculik orang dan please ya lain kali DM dulu!”, “masa ngilang gitu aja ngga pamitan?”, “kapan makan-makannya?”, “udah didoain belum? tunggu 40 hari?“, “yah ga bisa ditag donk! lo buat fake akun aja ya biar bisa ditag?”, “komen lo kok dihapus sihkan post gue jadi keliatan sepi“, “foto-foto lo padahal epic, mau ga nguploadnya pake akun gue?”, dan segambreng pertanyaan aneh lainnya 😩

Ya memang saya memang tidak terlalu sosmed, bahkan bukan manusia sosmed sebetulnya seperti yang pernah saya nyatakan di sini. Saya membuat sosmed karena memang waktu itu saya mengikuti lomba-lomba fotografi dan sempat tidak sengaja suka dengan seseorang sehingga enggan untuk meninggalkan medsos. Tapi lambat laun mulai muncul rasa “fake” di dalam benak saya seiring melihat timeline. Seems I judge people just by their cover, and they judge me just by my virtual appearance.

That’s not right and that’s not good at all, I can feel that bias!

Yah siapa sih yang ingin terlihat buruk di sosial media? Meskipun ada yang ingin pastinya hanya segelintir orang. Pastinya semua orang ingin tampak positif dan sosial media menjadi lahan aktualisasi diri. Sayangnya rasa fake itu tidak benar-benar membuat saya berhenti untuk menggunakan sosial media. Toh saya juga masih menggunakannya untuk mencari ilham dan ide untuk berkreasi meski jujur saya jenuh.

Hingga pada akhirnya sore hari di penghujung bulan September saya tidak sengaja ngobrol dengan seorang sahabat karib dari kantor lama via WhatsApp. “Adi, gue pengin deactivate IG nih“, dan saya berkelakar “Man tanggung kalau cuma deactivate, aku temenin delete akun IG biar PERMANEN!” Akhirnya dengan santainya kami berdua menentukan tanggal dan sudah ditentukan bahwa tanggal 26 September adalah tanggal eksekusi mati akun IG kami berdua. Ayo, siapa yang tertarik ikutan challenge tidak jelas seperti ini? Mungkin hanya kami berdua 🤦🏽‍♂️

Doi deaktivasi karena kelak siapa tahu sahabat saya ini akan kembali menggunakannya dan saya sendiri memilih untuk menghapus akun secara permanen agar tidak dapat dipulihkan, toh saya tidak merasa rugi. And that’s it, tidak ada alasan fake feeling dan sebagainya lagi. Delete akun karena hanya merasa tertantang. Dan ternyata seperti yang saya duga, I feel much better setelah kurang lebih hampir sebulan ini hidup tanpa media sosial. Don’t take it for granted, entah kenapa saya tidak sekalipun merasa penasaran dengan apa yang terjadi di dalam arus teknologi tersebut. Fear of missing out? Ehm I don’t think so.

Justru saya penasaran kenapa sih saya seperti itu? Apa saya tidak normal karena saya tidak begitu peduli dengan hal yang bersifat viral ini? Akhirnya karena justru lebih takut mengidap gangguan mental akibat “saya tidak memiliki rasa kekhawatiran hidup tanpa sosmed“, saya berkonsultasi dengan kerabat-kerabat dekat yang sama-sama tidak memiliki sosial media. And hi there I’m not aloneand there are so many of them. Kebanyakan orang yang berada di posisi saya memiliki tipikal “get a real life because we don’t need to prove anything to society who doesn’t deserve to know

Saya pernah ditanya oleh bos saat lagi di kantor “Di, gue lihat lo sering banget online chat WhatsApp sampai malam? Lo banyak gebetan ya?” Saya jadi terpikir, memang salah jika hobi chat atau ngobrol? Saya justru lebih suka ngobrol langsung daripada ngescroll timeline untuk mengira-ngira apa yang terjadi. Saya bukan anggota stalker elite sehingga tidak betah mengawasi untuk sesuatu yang saya sendiri tidak benar-benar tahu keadaannya secara nyata dan yang tidak benar-benar saya pedulikan. Saya justru lebih suka ngobrol langsung atau minimal chat jika tidak dapat bertatap muka. Sedangkan untuk membunuh waktu saya bermain game MOBA Mobile Legend 📱

Sekarang saya justru semakin lebih memilih untuk membaca buku dan berlangganan RSS feed dengan WordPress setelah sebelumnya menggunakan ini sejak Juli, sehingga terkadang ketika Jumat hingga Minggu iPhone tiba-tiba hening *saya matikan paket data dan tinggalkan di ruang kerja* sedangkan saya asik membaca di ruang tengah, just call or text me if you need anything. By the way, bukankah ada peribahasa seperti di bawah ini?

Source from Pinterest
Source from Pinterest

Saya iseng bertanya balik “Om Wir sendiri punya sosial media ngga?” Dan jawabannya doi juga tidak punya, dan saya pun tertawa dalam hati karena di kantor pun lagi-lagi saya tidak sendiri. Oke kembali ke topik, dan saya pun sadar bahwa memang lebih sering chat dan ngobrol. Mungkin karena karakter saya yang terbentuk dari kehidupan sosial dengan beragam orang yang hobi naik gunung, mbolang liburan, dan berpetualang di mana komunikasi secara verbal itu penting serta membuat suasana lebih asyik. Tidak heran ketika kami tidak berjumpa, grup WhatsApp dan Line sudah banjir notifikasi untuk ngajak jalan sana-sini daripada harus ngunjungi profil FB atau IG mereka satu-per-satu untuk memberi komentar dan menanyakan apakah ingin berlibur 😀

Saya membayangkan ketika sedang di gunung atau di pantai tersembunyi yang tidak ada orang lain selain saya dengan sahabat-sahabat lalu kami justru asik sendiri mainan gadget masing-masing daripada cerita saat api unggun dan menikmati bintang. Mending saya jalan sendirian deh! Bagi kami kenangan serta cerita ketika berada di perjalanan itu lebih utama, sedangkan ngepost di IG atau FB itu bonus. Selain grup WhatsApp, kedekatan dengan para alumni ketika mengenyam masa pendidikan justru membuat saya lebih sering kopdar daripada nongkrong di grup atau private message.

Yah bagi saya, daripada saya wasting time bersama si smartphone lebih baik nyampah di blog seperti sekarang ini, jalan mutar-mutar komplek perumahan, makan di luar, hunting foto, dan kegiatan yang bermanfaat. Hmm what a life isn’t it?

Dan daripada menghabiskan waktu dengan sosial media saat di rumah atau di waktu senggang, saya lebih suka menyibukkan diri seperti jalan-jalan. Meski bukan informasi penting, saya pernah meninggalkan smartphone saya selama 2 hari lebih dan memilih untuk membawa hape jadul Nokia 7610 ketika berlibur.

Smartphone bagi saya hanya tools untuk chat, baca artikel, dan kamera cadangan.

Sudah 2 minggu ini saya iseng cari-cari ternyata banyak artikel di feed saya yang senasib sepenanggungan karena membahas tentang hal-hal serupa dan saya pun menjadi semakin pede 😀 Contohnya ada di sini, situ, sana, dan geser ke sini. Dan di bawah ini ada video dari Youtube yang cukup menarik menurut saya.

Yah, everyone have their own way and their own thought. Mungkin ini adalah kesekian kali saya dikira skeptis dengan produk Wahyudi, dan banyak orang bosan dengan alasan saya tentang sosial media. Tapi sekali lagi

Saya tidak pernah menyalahkan sosial media dan orang-orangnya. Sosial media banyak manfaatnya kok meski tidak mengandung vitamin dan tidak bikin kenyang, hanya saja bagi beberapa orang sosial media bukan sesuatu yang menjadi keharusan apalagi pokok utama.

Katanya ada 2 hal yang sebaiknya ada ketika menjalin hubungan, simpati dan empati. Dan saya masih belajar tentang kedua hal tersebut agar menjadi lebih peka. Saya takut ketika merunduk, saya melewatkan mata pelajaran tersebut 😤

NB : Posting ini dipersembahkan kepada almarhum Papa, you have taught me to live a real life and that’s mean to be meaningful. Selamat ulang tahun Pa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s