Saya dan Sabtu, Cibubur – Gambir

Adi, udah bangun kan lo?” Panggilan telepon Line dari Ari di pagi hari itu membuat saya langsung terlompat kaget dari pulasnya tidur. “Gila udah hampir pukul 03.40 mana sempat?” Segera saya membuka hati aplikasi Grab di iPhone dan memesan kendaraan untuk mengantar ke Gambir. Tidak lupa langsung ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi. Selesai mandi saya mematikan lampu ruang tengah dan mengunci rumah lalu bergegas keluar ke depan perumahan. Sialnya saya baru sadar “EH BENERAN NIH, KARTU FLAZZ SAYA HARUS ILANG SEKARANG? GIMANAAAAAAA DONK??” Tol Cibubur – Lingkar Jakarta sekarang sudah wajib tanpa tunai untuk menggunakan e-toll dan rekan sejawatnya, dan justru kartu BCA Flazz saya hilang. Tidak lama kemudian driver Grab menelpon bahwa dia sudah sampai di depan perumahan.

Saya lari tergopoh-gopoh sambil membawa tas National Geographic beserta tripod kesayangan lalu langsung tanya “MAS, PUNYA KARTU TOLL GAK?” dan mas driver membalas “ada mas, tapi habis nih isinya kudu top-up” Sembari saya naik ke dalam mobil langsung saya inisiatif, “YA UDAH MAS, LANGSUNG ANTAR SAYA KE ATM DULU BUAT AMBIL DUIT” Si mas driver segera tancap gas menuju ATM yang ingin saya tuju. Dari rumah menuju ATM sebetulnya menjauhi pintu toll terdekat, tapi apa daya isi dompet juga nihil pagi itu. Saya benar-benar sudah pasrah dan pesimis, apalagi waktu sudah menujukan pukul 04.15 sesampainya di ATM. Beneran deh, saya tidak yakin akan dapat sampai di tujuan dengan tepat waktu. Mana sudah janji spend weekend bersama geng “anak komplek” pula. Aduh sedih banget asli kalau tidak dapat berlibur bersama mereka. Apalagi si Nia udah menelpon terus khawatir jika saya terlambat *dan padahal memang terlambat paraaaaaah*

Setelah saya ambil uang di ATM, mas driver berinisiatif “Mas udah cancel saja, saya tetap antar dengan tarif yang tertera. Biar saya dapat ngebut di luar peraturan Grab” Saya tidak ambil pusing “OK GUE CANCEL BRO, BURUAN TANCAP! TAR GUE TAMBAHIN” Benar saja, si mas driver langsung ngebut dari Tol Jagorawi menuju Jakarta seperti Dom Toretto di film Fast and Furious, tidak lupa top-up di gerbang tol dengan uang cash yang saya ambil di ATM. Waktu sudah menunjukan pukul 04.35 dan saya baru sampai di daerah Cawang menuju Pramuka. Mas driver berusaha menenangkan saya yang terlihat tegang “Santai mas, ngga usah takut. Sempat kok ini, paling tar mas lari aja dari pintu masuk ya” sambil tarik ngebut mobil Avanza hitamnya. Pramuka ke Gambir itu berjarak hampir 12 km. Saya tidak yakin benar-benar dapat sampai dan saya yakin seyakin-yakinnya saya pasti terlambat. Apalagi Ari, Firman, dan Nia berganti-gantian telepon saya karena khawatir saya tidak akan tepat waktu. Dalam hati “gaes, maafkan temanmu ini yang suka banget kalau tidur lupa aturan” 😫

Muka saya sudah kecut dan membayangkan seandainya saya terlambat pasti teman-teman jengkel setengah kuadrat. Duh, beneran jantung deg-degan banget. Apalagi telepon dari si Ari dan Firman yang kesekian kali membuat terharu sekaligus pasrah. “Di, sampai mana lo?” dan sambil melihat jam tangan yang menunjukan waktu tepat pukul 04.55 saya membalas “sampai Senen gan, duh ngga tau nih sempet apa ngga” dan mereka bilang “APA SENEN? MANA SEMPET ITU?” Si mas driver langsung menyahut “ini sudah di Menteng mas, 3-5 menit lagi sampai kok” Langsung saya forward ke Ari “Bro udah Menteng ternyata, 3 menit ya!” Ternyata sahabat-sahabat saya ini beneran deh idenya gila habis “Di, kita langsung naik udah mo last minute dan tiket kita titipin di mas yang jaga stan mochi dekat KFC ya. Biar lo tetep bisa ambil tiket terus check-in” Asli mereka sahabat-sahabat terbaik yang selalu punya ide gila buat nolongin saya.

Yang membuat saya deg-degan di sepanjang Menteng itu banyak banget lampu merahnya. Paling deg-degan adalah ketika dari jauh lampunya merah dan tiba-tiba saat sudah dekat langsung hijau. Si mas driver langsung tancap gas pol, dan terhitung tiga kali nyaris terhambat lampu merah. Benar-benar buat saya sport jantung. Tapi sayang, keberuntungan kami habis. Tepat pukul 05.00 di dekat perempatan Mandiri dan Gambir lampu merah terakhir justru muncul ketika kami sudah mendekatinya. *ASLI PANIK PARAH PAKAI BANGET!* 05.02 dan lampu hijau, tidak sampai 1 menit kami sudah sampai di depan pintu Gambir. Saya langsung kasih uang seratus ribu rupiah dan pamit lalu lari ke dalam stasiun. Benar-benar seperti di dalam film, saya lari kencang lewat pintu utara dan memasuki ruang tunggu di dekat KFC. Bahkan *tolong jangan ditiru dan maafkan ketidak-sopanan saya* saya sempat melompati orang-orang yang sedang tidur di bangku ruang tunggu. Waktu sudah menujukan pukul 05.04, “YA GUSTI, TINGGAL 1 MENIT” dan akhirnya sampai di dekat KFC.

Mungkin saking paniknya raut wajah pucat saya mudah ditebak oleh si mas yang jaga stan mochi “pasti ni anak yang dititipin tiketnya”, dari jauh si mas sudah terlihat mengulurkan tangan untuk memberikan tiket. Langsung saya sambar tiketnya sambil mengucap “MAKASIH MAS!” dan lari sprint *BENAR-BENAR SPRINT* ke gerbang peron. “Mas ayo mas buruan tinggal beberapa detik lagi kereta berangkat!” teriak petugas peron. Saya langsung lari naik tangga dan mengerahkan semua hasil lari setiap pagi. AT THE END SAYA BERHASIL MASUK KERETA MESKI SALAH GERBONG, MALAH MASUK GERBONG RESTORAN. Tidak sampai beberapa detik kereta pun perjalan tepat pukul 05.05 lebih sedikit. Benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya. Dari gerbang itu saya berjalan menuju gerbong 1. Tiba-tiba terlihat Firman, Rahma, dan “anak-anak komplek” yang lain di gerbong 3, serius itu adalah perasaan paling excited yang saya rasakan di pagi itu. Langsung saya menghampiri mereka, dan bagaimana tidak sumringah? Karena si Ari dan Firman sudah deg-degan menunggu saya sampai dengan menit terakhir keberangkatan dan sempat berpikir bahwa saya tidak berhasil. Kita pun langsung tertawa tidak percaya 😅

Asli senang dan euforianya tidak habis-habis, sampai di gerbong 1 saya happy banget akhirnya dapat bertemu Nia, Ari, dkk. Dan mereka pun juga tidak menyangka ternyata saya sukses “landing” di menit terakhir dan terheran-heran sambil ketawa karena cerita saya yang memang hampir tidak masuk akal. Cibubur – Gambir hampir 40 menit ditambah harus ke ATM dsb, melompati orang-orang, dan sprint sambil mengambil tiket dari tangan mas penjaga mochi. Saya menaikkan tas dan tripod, lalu duduk dan tersenyum. Thanks God, saya dapat berkumpul bersama sahabat-sahabat untuk berlibur tenang. Lemas dan jantung masih bedegup kencang. Tapi tidak membuat saya enggan untuk tertidur pulas selama perjalanan dari Gambir menuju Bandung. RencanaNya memang membuat cerita hidup ini tidak pernah datar and yes life is never flat!

NB : Cerita ini apa adanya, tanpa dramatisir dan menurut saya pengalaman selama di Bandung kemarin itu benar-benar mantap serta tidak terduga, habis upload gambar-gambarnya langsung posting ah 😝

One thought on “Saya dan Sabtu, Cibubur – Gambir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.