Sumurup dan Sebuah Hari yang Baru

Dan sekiranya rasa kagum akan rahmatNya yang tiada pernah berakhir. Seperti padang rumput yang tiada pernah kering dan menguning, tetap hijau berseri. Apa lagi yang dirisaukan? Ketika segalanya telah dicukupkan, di Sumurup saya meresapi.

Sumurup

Sebuah paragraf yang terngiang di kepala ketika kaki saya melangkah menelusuri sepanjang rel kereta klasik yang menyambung dari Beringin – Ambarawa – Semarang. Terbayang di dalam benak saya tentang kehidupan masa lalu di daerah ini yang pastinya asri, tenang, dan penuh dengan kearifan lokal. Rakyat yang bekerja di sawah serta ladang sebagai petani dan di sekitar danau sebagai nelayan untuk menangkap ikan. Meneer Belanda yang bersepeda dan bersantai menghirup udara sejuk di bawah kaki Gunung Merbabu dan Telomoyo. Bagi mereka yang suka kesunyian, dihibur dengan kicauan burung serta kopi hangat. Dan di kala sore hari, ray of light dari langit sore pun menjadi hidangan pembuka bagi penikmat sore.

Β 

Sumurup, dari Salatiga sekitar 5-8 km menuju Bawen dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi. Dari jembatan tuntang di sebelah kiri ada gang menuju area ini. Saya sendiri sering ke Sumurup ketika pulang kampung. Entah kenapa setiap saya ke sini, seperti bertemu dengan sosok kekasih yang dirindukan. Tidak heran banyak pasangan yang akan menikah memanfaatkan momen di Sumurup untuk sesi foto pre-wedding. Saya sendiri tidak merasakan sedikit pun sepi karena bertemu dengan para sahabat dari kecil yang ternyata semangat untuk mengunjungi tempat indah satu ini.

Β 

Keceriaan kami dimulai, bertiga mengendarai mobil dari Salatiga pukul 16.00 dan sampai di lokasi sekitar pukul 16.30. Tidak lupa dibuka dengan bersantai di tepi danau untuk menikmati segelas kopi instan. Memandangi langit sore yang begitu bercahaya dan hangat. Tidak silau, cukup temaram dan berangin sejuk. Di sisi danau, perahu nelayan berjajar dengan rapi. Segera kami pun mengeluarkan smartphone untuk jepret-jepret ria. Entah itu selfie, landscape, dan video pokoknya kami berusaha merekam momen itu. Canda tawa mengiringi cerita kenangan masa lalu kami dari SD hingga kuliah. Gojek babu alias canda receh ringan pun menemani sore indah kami.

Sambil memandangi barisan gunung tinggi nan megah dari pinggir danau, kami bertukar bermacam cerita dan rencana ke depan. Pegunungan yang megah untuk persahabatan yang solid. Ya di sore hari itu kami merenung, sore itu datang untuk menjemput malam. Dan hari esok akan datang setelah malam pun berlalu, dan kami percaya akan lebih baik lagi dan jauh lebih indah dari hari sekarang. Sore, kopi, dan sahabat. Terimakasih Sumurup untuk hari yang baru, kami menutup hari lama itu dengan cerita yang baru. Pukul 18.00, saatnya kembali pulang.

Semoga tidak pernah bosan dengan spot Sumurup ya gaes πŸ˜‰
Sumurup dan Sebuah Hari yang Baru

3 thoughts on “Sumurup dan Sebuah Hari yang Baru

  1. Dan hari esok akan datang setelah malam pun berlalu, dan kami percaya akan lebih baik lagi dan jauh lebih indah dari hari sekarang. Sore, kopi, dan sahabat. Terimakasih Sumurup untuk hari yang baru, kami menutup hari lama itu dengan cerita yang baru. #Mantap.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s