Sebuah Titik Balik, Pendakian Gunung Guntur

Banyak yang bilang Gunung Guntur itu seperti Semeru versi mini. Meski tampak gersang, namun gunung ini adalah harta di negeri ini yang ternyata menyimpan seabrek keindahan karyaNya. Jika banyak pendaki yang mengatakan bahwa gunung di bawah 3000 mdpl itu pasti mudah didaki, mungkin gunung ini adalah pengecualian bagi mereka yang meremehkan. Di gunung ini saya belajar tentang sebuah titik balik mental, dari keterpurukan menjadi kekuatan.

Tambang di Guntur

Kota Garut, sebuah kota di provinsi Jawa Barat yang memiliki udara yang sejuk dan dingin menyegarkan. Tidak heran karena dikelilingi oleh gunung-gunung megah. Kota ini pun telah dipilih menjadi tujuan kami yang dirundung rindu akan nuansa pegunungan dan sungguh menggoda untuk dikunjungi kembali. Gunung Papandayan, Cikuray, Guntur, dan Merdeka. Untuk Cikuray yang menyimpan cerita pernah saya tuangkan di sini. Gunung Guntur adalah gunung berapi dengan ketinggian 2.249 mdpl ini akhirnya ditetapkan sebagai destinasi kami untuk pendakian. Gunung ini dikenal sebagai trek latihan sebelum mendaki sang Mahameru, karena konon bagi para pendaki dapat dibilang jalur puncaknya mirip dengan jalur Kalimati – Puncak Semeru. Di gunung ini pula terdapat penambangan pasir yang cukup besar dan luas, cukup berdebu dan gersang. Namun jangan khawtir, itu hanya di bagian kaki gunung sedangkan di dalam perjalanan akan disuguhi nuansa alam yang menajubkan. Air terjun, trek hutan yang teduh, padang sabana yang luas, dan jalur pasir yang menjengkelkan sekiranya siap menyabut para pecinta alam yang haus akan keindahan karya Ilahi.

Photocandid by Ariadiprana

Dari Jakarta, perjalanan menuju Garut dapat ditempuh dengan bus umum dan dapat dilanjutkan dengan menyewa angkutan umum setempat. Start awal kami tentukan dari Terminal Kampung Rambutan di pagi hari. Berbekal informasi dari hasil browsing di internet dari Jakarta menuju Garut jika ingin mendaki Gunung Guntur dapat berhenti di Pombensin Tanjung. Perjalanan dari Jakarta – Garut memakan waktu sekitar 5 jam perjalanan. Sesampainya di Pombensin Tanjung, kami turun dan langsung mendapatkan angkutan umum menuju basecamp. Angkutan umum tersebut biasanya mengincar para pendaki dan langsung mematok harga Rp 120.000 sampai dengan Rp 140.000 tergantung hari. Perjalanan dari Pombensin Tanjung menuju basecamp hanya memakan waktu sekitar 20 menit, dan kami menyempatkan diri untuk belanja perlengkapan di Alfamart terdekat. Sedikit informasi tentang Gunung Guntur, meskipun tidak setinggi Cikuray namun jangan sekalipun meremehkan medan perjalanannya. Pentingnya membawa masker karena medan perjalanan di awal dan menuju puncak sangat berdebu. Selain itu Gunung Guntur memiliki 5 puncak dan rata-rata pendakian dengan porter hanya akan diantar hingga puncak 2. Untuk Puncak 4 dan 5 jarang sekali ada pendaki yang tertarik untuk ke sana karena medan yang cukup terjal juga masih banyaknya fauna liar di sana.

Memulai Perjalanan

Sesampainya di Pos Pendakian kami segera mempersiapkan diri dan kembali mengecek perlengkapan. Perlu diingat bahwa mata air hanya ada di Pos 3 sehingga ketika akan menuju puncak perlu menyiapkan air dari Pos 3. Sore hari sekitar pukul 15.30 kurang kami bergegas memulai pendakian, sempat berhenti di awal karena terjadi kebakaran di jalur lama Guntur. Setelah dinyatakan aman kami kembali melanjutkan perjalanan. Memang banyak sekali penyebab kebakaran. Selain karena sabana alang-alang yang sedang kering, rokok dan gesekan batu karena tiupan angin pun kerap menjadi penyebab utama kebakaran. Trek awal sangat landai namun berdebu karena melewati area penambangan pasir, alat-alat berat pun tampak di kanan dan kiri kami. Cuaca yang cerah dan sejuk, memang pendakian di sore itu sangat menguntungkan kami. Terik matahari yang tidak lagi menyengat dan semburat warna oranye samar sungguh menenangkan. Menurut informasi dari internet, pendakian hingga Pos 3 memakan waktu sekitar 3 hingga dengan 4 jam tergantung dari ritme dan tempo perjalanan.

Menuju Pos 1

Jaket yang saya kenakan pun tidak membuat terasa gerah karena meski sedang di awal musim kemarau namun suhu saat itu sekitar 25 derajat celcius disertain angin yang cukup sepoi. Sekitar 15 menit berjalan sembari berfoto-foto ria, kami sampai di Pos 1. Hingga memasuki Pos 1 kami pun masih belum menemukan trek tanjakan dan sebetulnya daripada disebut sebagai Pos 1 lebih cocok jika disebut dengan gerbang pendakian. Dan di Pos 1 kami ditarik retribusi oleh petugas resmi dan mendapatkan surat ijin pendakian berikut asuransi jiwa. Perjalanan ini tidak sepi karena banyak sekali rombongan pendaki lain yang turut meramaikan perjalanan. Selain itu karena sempat terjadi kebakaran di jalur lama, di Pos 1 banyak petugas pemadam kebakaran yang terlihat sedang beristirahat setelah berhasil memadamkan api. Dari Pos 1 menuju Pos 2 didominasi oleh hutan yang tidak terlalu padat vegetasi dan treknya pun cukup lebar. Treknya memiliki tanjakan yang berundak dan tidak curam. Jalur yang tidak berlumpur dan cukup kering karena memang tidak ada hujan sehingga memudahkan ketika menanjak karena tidak ada adegan terpeleset.

Saya dan Sungai, thanks Ariadiprana!

Dari Pos 1 menuju Pos 2 kami tempuh dalam waktu cukup singkat yaitu sekitar 1 jam perjalanan. Menuju Pos 2 kami menikmati pemandangan indah, yaitu aliran sungai. Kami menyempatkan diri untuk berpose ria mengabadikan momen di keindahan alam Garut. Air di sungai ini cukup jernih, tidak bau, dan layak konsumsi. Selain itu ketika menyentuh kulit terasa sangat dingin menyegarkan. Cocok bagi para fotografer landscape yang ingin menghasilkan karya long exposure. Setelah berpuas diri dengan memanjakan mata menikmati karya Ilahi, kami melanjutkan perjalanan karena langit yang mulai gelap. Di Pos 2 pun kami terpisah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yang memiliki mobilitas cepat dan tangkas, sedangkan kelompok kedua yang lebih santai gerakannya. Tidak lama, sekitar pukul 18.30 kami berkumpul kembali di Pos 3. Pos 3 merupakan area untuk bermalam dan mendirikan tenda. Sungguh ramai dan penuh dengan tenda dari kelompok pendaki lain. Di Pos 3 pula terdapat mata air yang cukup bersih sebagai cadangan air minum dan keperluan cuci perlengkapan. Perlu diingat agar tidak mandi, buang air, apalagi buang sampah di mata air tersebut.

Vegetasi Pos 1 – Pos 3 by Ariadiprana

Setelah menemukan area yang cocok, kami segera mendirikan tenda. Di bawah gemerlap bintang dan langit malam serta udara yang cukup dingin tenda kami tegak berdiri. Segera kami membuat menu makan malam yaitu pasta dan minuman hangat. Setelah selesai bersantap ria, kami memutuskan untuk bersantai dan bersenda gurau. Kecantikan gemerlap lampu kota Garut membuat pemandangan di malam hari itu semakin terpancar. Pukul 21.00 kami segera beristirahat memulihkan stamina untuk menuju puncak esok hari yang dimulai tepat pukul 03.00. Perlu diingat bahwa Gunung Guntur rawan kejahatan seperti pencurian barang, sehingga saya sendiri berinisiatif tidur di luar tenda untuk berjaga-jaga atau piket malam. Suasananya cukup nyaman namun cukup ramai oleh suara teriakan pendaki-pendaki ‘ribut’ lainnya.

Kota Garut dari Pos 3

Menuju Puncak

Tepat pukul 03.00 pagi kami semua sudah bangun dan bersiap mendaki. Udara yang dingin namun kering mengiringi perjalanan kami menuju puncak. Gelapnya trekking di pagi buta itu memberikan nuansa yang cukup mencekam, berbekal senter dari smartphone saya memberanikan diri untuk menelusuri jalur. Memang benar adanya bahwa menuju puncak di Guntur itu adalah untuk berlatih mendaki sang Mahameru. Trek dan jalur yang berkerikil licin menghantui perjalanan kami di malam itu. Berkali-kali saya terperosok, dua – tiga langkah maju dibayar dengan satu langkah mundur. Saya benar-benar harus memilah lewat mana yang akan saya berpijak. Sangat disarankan mengenakan sepatu daripada sandal gunung. Kerikil tajam yang masuk ke sela sandal dapat melukai kaki sehingga perlu ekstra hati-hati. Jika cukup jeli maka melewati jalur tanah rumput meski sempit adalah pilihan paling bijak.

Sunrise Guntur by Cornelius

Selama perjalanan menuju Puncak 1 merupakan perjalanan yang sangat menantang mental. Kemiringan jalur sekitar 40 – 70 derajat dan sangat beresiko jika tergelincir dan jatuh. Selain itu karena cukup ekstrim sudah pasti akan merepotkan bagi yang jarang berolahraga karena menguras stamina. Gelapnya langit pagi dan munculnya kabut secara tiba-tiba sempat membuat nyali saya ciut, sering saya bersender sisi tanah yang berundak untuk mengumpulkan nafas dan sembari menguatkan diri untuk menahan dingin. Samar-samar terlihat beberapa pohon cemara selama perjalanan yang dapat dimanfaatkan untuk menahan badan ketika mendaki ataupun untuk beristirahat sejenak. Lagi-lagi hamparan kerikil dan pasir menjadi momok bagi saya, dan saya harus bersabar menahan perihnya kaki karena terkena kerikil. Akhirnya selang jarak 15 menit dari Puncak 1 saya beristirahat sejenak untuk menikmati sunrise. Tidak terasa 2.5 jam perjalanan dari Pos 3 dan ternyata masih belum dapat summit di Puncak. Cahaya pagi itu indah sekali, kabut yang tersapu oleh sinar mentari seolah menyiratkan bahwa “badai dalam hidup pasti akan berlalu, dan terkadang badai itu tidak benar-benar adalah badai”

Sabana Puncak 1

Dari kejauhan Pos 3 mulai terlihat dan padang rumput dan sabana yang sangat cantik tampak menggoda ketika kabut tidak lagi menyelimuti. Setelah puas bersantai ria saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak 1. Tepat pukul 06.00 saya sampai dan langsung berfoto ria di sabana. Senang sekali, rasanya masih tidak percaya bahwa saya dapat melewati batas mental saya yang sempat drop. Memang, pendakian bukan untuk menaklukkan alam namun untuk menaklukkan ego diri sendiri. Gunung yang sering disepelekan karena tidak terlalu tinggi ini ternyata menyimpan berbagai kejutan ketika menuju puncak. Sembari menikmati alam di puncak, saya termangu serta takjub melihat hamparan rumput yang hijau menguning kering di arah Puncak 2. Sungguh memukau, punggung bukit yang disinari oleh sinar mentari memang eksotisnya tiada tara. Sayang ketika kami beranjak menuju Puncak 2 kembali kabut naik menutupi jalur pendakian. Karena cukup beresiko akibat tidak dapat melihat jalur akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri pendakian ke Puncak 2 dan berpuas diri dengan Puncak 1. Ya memang terkadang selesai itu tidak harus sempurna bukan? Dari Puncak 1 pun kami kembali beranjak turun menuju Pos 3 dan bersiap kembali untuk turun ke basecamp.

Menuju Puncak 2

Tulisan ini untuk Mama terkasih, “Mama ngga berjuang sendiri dan Nandra ikut untuk berjuang, tetap semangat ya Ma! Kita pasti bisa kok, Tuhan sayang kita :D”

 

Sebuah Titik Balik, Pendakian Gunung Guntur

2 thoughts on “Sebuah Titik Balik, Pendakian Gunung Guntur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s