A Milestone

Hari ini saya akan berusaha menggapai salah satu poin di kehidupan saya. Akad rumah, bukan bermaksud pamer. Tapi bagi seorang single yang belum berpasangan dan berumur di bawah 30 tahun saya masih ingin menjalani kehidupan yang penuh tantangan tanpa terbebani. Namun semenjak 2 bulan yang lalu, hati saya terketuk olehNya. "Eh nak, kenapa tidak mencoba hal yang baru? Semisal diberi tanggung jawab" Saya protes kepada pemilik hidup, "Gusti Yesus, lha wong saya masih belum merasa bahagia. Saya masih pengin senang dan santai tanpa perlu mikirin hal ini itu. Yang penting hidup terus berjalan dan Engkau mendampingi hambaMu ini" tapi Tuhan itu maha bijak, jawabNya dalam bentuk proses pembentukan pola pikir di hidup saya tidak pernah ada habisnya. "Apa akibatnya bagi hambaKu yang tidak mengembangkan talentanya yang telah Aku berikan?"

Dari lahir hingga berumur 26 tahun ini tidak pernah sekalipun Tuhan meninggalkan saya. Saya diberikan olehNya keluarga yang sungguh mencintai saya. Bapak, Ibu, Mas Ore, Mbak Nila, dek Rian. Selama di perantauan Gusti Yesus menitipkan saya kepada sanak keluarga Om dan Bulik yang menjadikan mereka sebagai Bapak dan Ibu saya di perantauan. Saya diberikan olehNya teman-teman yang sangat mendukung seperti Mas Febrian, Nindya, Guruh, Mbak Sita, Weda, Yoga, dan lainnya. YESUS TIDAK PERNAH SEKALIPUN MENYERAHKAN SAYA JATUH KE DALAM PENCOBAAN! Termasuk dalam pekerjaan saya bertemu dengan rekan-rekan yang membangun karakter saya seperti Pak Tomo, Pak Lutfi, Mas Chung, Mas Heri, Mas Edo, Ari, Firman, Pak Wira, Mas Djat, Okta, dsb.

Apa jadinya ketika segala sesuatunya dijauhkan olehNya agar saya sadar? Saya tidak ingin disadarkan oleh kesalahan yang saya buat sendiri. Akhirnya saya mencoba berpikir, Tuhan memberikan saya kesempatan yang sungguh luar biasa baiknya dan saya ingin berbagi kepada mereka yang telah Dia sediakan bagi saya. Saya bersyukur, bahwa keputusan untuk mencari rumah dimudahkan olehNya melalui Mas Ore. "Ndra, mau lihat rumah ga? Katanya pengin beli rumah?" Saya menjawab "Ga punya duit" Mas Ore pun menimpalinya dengan santai "Ini ada aturan dari BI, ini ada beberapa selebaran. Kamu bisa lihat dulu" Melalui kakak saya Bapa berbicara. Saya bukan orang yang religius, saya bukan seorang anak yang sungguh patuh kepada Bapa. Saya bandel, saya nakal, dan saya usil. Tapi Bapa sungguh baik. Saya yang tidak mengerti apa-apa tentang rumah pun selalu dibantu olehNya melalui mereka yang ada di sekitar saya.

Jika hari ini jalan tidak akan mulus ataupun mulus, saya percaya Bapa sedang mengajarkan saya untuk terus belajar dan berkembang. Suara di hati kecil saya ketika sedang merasa susah selalu bergema "you don't know your own limit, just God who know everything about you" Dia memampukan. Segala kegundahan saya niscaya Ia sirnakan. Saya percaya. Ini bukanlah doa, ini pengingat bagi saya dan saya percaya jika tulisan ini suatu saat jika dibaca oleh anak keturunan saya mereka pun dapat merasakan kasihNya yang selalu melimpah ruah. Bukankan kasihNya seperti sungai? Yes today would be a great milestone in my life. I love You God!

A Milestone

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s