Good Freeday di Yogyakarta, Budaya dalam Fotografi.

Yogyakarta menyimpan semua budaya Jawa dalam satu wadah. Salah satu harta berharga milik Indonesia yang istilahnya ‘tumplek-blek’ atau terkumpul di dalam sebuah provinsi. Kata orang salah satu sisi istimewa provinsi ini adalah karena “setiap sudut kota di Yogyakarta itu romantis” dan bagi saya sekali lagi bukan hanya sekedar kota dan keromantisannya, namun keistimewaan seluruh kota yang berada di dalam provinsi ini memang layak dikatakan istimewa karena ragam kulturnya.

Wisata budaya di provinsi ini terasa sangat kental. Dimulai dari situs candi, alun-alun, dan istananya yang menandakan bahwa Jogja itu sangat menghargai budaya. Sedikit lebih jauh membahas akar budaya dari daerah ini. Memang mungkin akan terdengar sedikit chauvinis. Sebagai seorang Jawa tulen yang mengagungkan kedigdayaan leluhur saya, maka daerah ini layak dikatakan sebagai pengingat identitas orang Jawa itu sendiri. Leluhur dan moyang dari 3-4-5 generasi di atas saya pastinya memang bukan berasal dari provinsi ini.

Hampir semuanya adalah ‘penduduk’ Mangkunegaran yang notabene berada di daerah Solo – Karanganyar, namun hati dan jiwa saya benar-benar melekat secara penuh di Daerah Istimewa ini. Sebagai pengagum kultur Jawa saya mengetahui bahwa sebagian besar orang Jawa di masa sekarang adalah berasal dari asimilasi antara Wangsa Syailendra dengan orang Jawa asli di masa itu atau lebih dikenal dengan sebutan Wangsa Sanjaya. Asimilasi itu sendiri telah banyak menghasilkan peninggalan yang dapat dikatakan cukup memiliki ‘aura’ kemegahan Jawa di jaman dahulu kala.

Namun asimilasi antar dua wangsa tersebut mengalami banyaknya ‘revolusi’ seiring pergerakan jaman. Seperti peperangan yang dilakukan oleh Rakai Pikatan, pemberontakan oleh Mpu Daksa, dan perselisihan dengan Dyah Wawa. Oh iya, berbicara tentang asimilasi yang saya maksud di sini adalah percampuran budaya dari agama yang dianut antara aliran Buddha Mahayana oleh Wangsa Syailendra dengan aliran Hindu Saiwa oleh Wangsa Sanjaya. Pergerakan tersebut secara turun-temurun menghasilkan banyak peninggalan yang autentik dan beragam, semisal :

  • Candi Borobudur dengan corak Buddha oleh Wangsa Syailendra
  • Istana Ratu Boko oleh Dinasti Medang
  • Candi Plaosan dengan corak Buddha oleh Dinasti Medang di era Rakai Pikatan
  • Candi Prambanan dengan corak Hindu oleh Dinasti Medang di era Rakai Pikatan sebagai tandingannya Borobudur yang dibangun oleh Wangsa Syailendra
  • Candi Sambisari dengan corak Hindu oleh Sanjaya
  • Candi Barong dengan corak Hindu oleh Dinasti Medang – Mataram Lama
  • Candi Ijo dengan corak Hindu oleh Dinasti Medang – Mataram Lama
  • dsb

Beberapa candi yang terekam oleh saya dapat dilihat di bawah ini :

Sambisari Temple
Barong Temple
Sojiwan Temple
Plaosan Temple
Prambanan Temple

Semoga bingkaian mesin waktu di atas menggugah semangat kita untuk semakin menjaga budaya masing-masing agar tidak lekang oleh waktu. Mohon maaf jika terdengar chauvinis, tapi sejatinya saya sangat menghargai dan mencintai semua budaya yang berada di seluruh pelosok nusantara ini. Hanya saja saya miris karena semakin hari Indonesia tergerus oleh isu radikalisme agama, rasisme, dan hoax yang menyudutkan keberagaman negeri ini.

Untuk bahan bacaan tentang sejarah bagi yang ingin mengetahuinya dapat merujuk di banyaknya tautan Internet. Saya sendiri selalu membiasakan untuk belajar dan mencari tahu secara mandiri hehe. Saya hanya ingin membagikan pesan bahwa negeri ini bukanlah milik satu atau dua golongan saja, namun milik kita bersama. Marilah belajar dari sejarah, karena kita dapat mengubahnya untuk menjadi lebih baik atau justru menjadi lebih buruk 🙂

Good Freeday di Yogyakarta, Budaya dalam Fotografi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s