Nanjak di Ketinggian Lagi?

“Ayolah Di, tahun ini terakhir. Jangan sekarang lah!” ‘undangan’ dari Ari membuat saya semakin rindu untuk mendaki.

Tidak terasa sudah dua bulan ini ada yang aneh di kamar saya. Tampak lebih kosong. Saya senang dengan sesuatu yang tenang dan ketinggian menyediakannya bagi saya. Naik gunung adalah salah satu bentuk passion di hidup saya yang paling susah untuk tidak dilakukan. Naik gunung bagi saya bukanlah ajang pamer kekuatan fisik, saling menjatuhkan mental, lomba siapa yang tercepat dan terbaik, dan bahkan pamer foto di media sosial dengan caption “eh saya lagi travelling lho! how beautiful my life is“.

Sesuai dengan yang dikutip dari akun Steller saya saat mendaki Sang ‘Mantan’ Merbabu

Pendakian bukanlah pelarian, tetapi mencari makna dan untuk mengenal diri sendiri dengan lebih baik.

Bukan untuk terlihat kuat dan bukan untuk menertawakan yang lemah.
Tetapi menempa jiwa dan raga.

Baru saja tadi saya membeli Aqua galon di kosan dan dilayani oleh cucu Ibu Kos. Tiba-tiba si cucu yang masih ABG itu nyletuk “udah naik gunung apa aja om?” Saya jawab “baru dikit kalau saya dek, gimana kemarin nanjaknya? Seru kan naik gunung?” Kebetulan si cucu baru saja mendaki minggu lalu. “Aku kemarin naik gunung Cikuray lewat Kiara Janggot, Dangiang om. Sekitar 8 jam nanjaknya. Eh bener lhoh kata om, di sana banyak celengnya. Bla bla bla bla” cerita si cucu panjang lebar.

Tidak terasa tangan saya pegel juga gendong galon Aqua karena sambil dengerin dia cerita. Seneng denger kisah dia dan hebatnya doi tidak kapok untuk naik gunung. Malah dia berencana setelah lebaran akan naik ke Gunung Merbabu, katanya terinsipirasi dan antusias dengan cerita saya waktu mendaki ke Merbabu dan Lawu. Dalam hati saya, Puji Tuhan. Ternyata cerita dan kisah pendakian saya dapat menginspirasi generasi penerus yang masih muda. Saya juga sangat salut, dia belajar dari kesalahan-kesalahan yang saya buat selama perjalanan.

Akhirnya karena kecapekan menggendong si dedek galon, saya pamit untuk beranjak kembali ke kamar. Tiba-tiba si cucu berkata “Om, ayo donk kita nanjak bareng! Mau ya? Tar kita ngetrack rame-rame, pasti seru! Foto-foto om keren lhoh” Saya menatapnya, lalu tersenyum. Saya bingung harus mengiyakan atau justru menunda. Yang jelas saya tidak tega untuk bilang tidak. “Ayo kapan kita atur bareng jadwalnya. Nanti kalau butuh tenda dan perlengkapan bisa pakai punya saya” sahut saya. Saya tidak tahu apakah saya sendiri siap untuk mendaki lagi?

Saya malas bercerita kenapa berat bagi saya untuk kembali mendaki. Gunung bagi saya adalah kekasih hati, diciptakanNya untuk setia tiada mampu mengingkari janji, dan sungguh itu semua tidak akan pernah saya lupakan. Ibarat kata

“Hutan pinus yang hijau, sabana yang luas dan lembut, padang bunga Edelweiss yang memanjakan mata, dan segala pemandangan yang luar biasa. Mereka adalah pakaian terbaik yang dikenakan oleh sang kekasih untuk menyambut saya.”

“Track berat, hujan deras, badai, dan jauhnya mata air. Hati sang kekasih yang ingin dimanja. Tidak ingin pendakian saya segera berakhir dan akan terus bersama dengannya.”

“Malam berbintang, dingin, berkabut, dan syahdu. Kerinduannya, kemolekannya. Saat malam, kedua makhluk yang saling merindu di bawah bulan dan bintang bertemu untuk memadu kasih. Saling mengistirahatkan perasaan dan raga. Kepalanya bersandar pada bahu lembah, matanya bak bintang yang memenuhi rasa rindu ini. Bulan bersinar malu, nampak seperti lampu tidur.”

Saya tidak ingin bercerita apa alasan saya. Hanya saja,

smilies_fb5ox6p94iii.gif

Menjauhkan rasa cinta saya kepada gunung itu bahkan jauh lebih menyakitkan daripada saya harus memutuskan hubungan dengan seseorang, ketika ada yang mengajak saya untuk kembali mendaki seolah hati saya menertawakan dirinya sendiri sambil meledek “eh, kamu ngga kangen dia? Ga ada salahnya ketemuan sebentar untuk menyapa. Cuma sekali ini kok” Saya tinggalkan semua perlengkapan saya dan percaya waktu yang akan mengobati šŸ™‚

Segala momen yang terekam, tersimpan rapi, aku terus menatapnya, dan gengsi untuk mengakui bahwa aku masih mencintaimu.
Nanjak di Ketinggian Lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s