Rasa Suka Itu?

Minggu lalu saya janji bertemu dengan teman SMP. Akhirnya jumat malam kami berdua nangkring di resto sushi yang cukup mainstream dan berlokasi di Gandaria City. Kebetulan sudah lama tidak tatap muka secara langsung semenjak kucing kami gagal berjodoh tahun 2009, jadi banyak hal yang dia ingin ceritakan. Mulai dari kehidupan dia sehari-hari, pekerjaan dia, rencana lanjut sekolahnya dia, hingga gebetannya dia. Sedangkan saya cuma mampu cerita score game Flappy Bird yang udah berhasil tembus 300 di awal tahun ini *menyedihkan*

Nah 3 topik obrolan pertama dapat dianggap basi karena saya tahu benar sahabat saya ini sebetulnya cuma ingin curhat tentang topik terakhir hahahaha. Mungkin karena doi sendiri jarang cerita masalah isi hatinya dengan saya, kecuali masalah troubleshot hape dan laptopnya yang sering bermasalah atau lupa password emailnya atau minta tolong dibenerin blognya *nasib jadi mas-mas service ITC Roxy*

***

Mawar : “Eh Ndra, sebetulnya ya. Gue itu lagi deket sama temen cowok tapi gue malu buat cerita sama lo” lalu dia menyeruput Ocha dingin yang kalau habis isi ulangnya gratis.

Saya : “Pasti cowok itu aku ya?” sambil nyengir sisir-sisir gigi.

Mawar : “Najis! Seriusan bete gue! Lo mau dengerin cerita gue ngga?”

Saya :”Iyaa, monggo cerita dek~” *gusi berdarah habis ditoyor pake tusuk Takoyaki yang entah darimana datangnya*

Mawar : “Jadi gue udah dari Maret kemarin dideketin tuh cowok, klien gue sih. Kenal hampir 2 tahun. Sama-sama Chinese dan seiman rajin ngajakin ke Gereja sama komsel, ngga seperti lo yang tukang PHP dan doi juga udah mapan

Saya : “Ini mah kamu cuma mau pamer, bukan cerita namanya” nyinyir saya sambil nyipitin mata.

Mawar : “Engga bukan gitu, lo jangan jelous gitu donk njir. Anehnya doi itu berani bilang kalo dia suka sama gue. Padahal dia aja ga tau siapa gue. Gue ngga temenan sama doi di FB, dan doi ngga gue approve di IG. Gue heran pemikiran dari mana bisa ngaku suka sama gue?” *kasian nih cowok, hanya bisa follow IG online shopnya temen saya doang* dan teman saya tiba-tiba berhenti ngoceh karena pesanan tambahan sudah datang.

Mawar : “Eh tadi sampai mana?”

Saya : “Sampai ngungkapin. Emang selama hampir 2 tahun itu kamu ngapain aja sama dia? Ngga ada asap kalau ngga ada api. Alasannya apa? Aku aja heran ada manusia normal yang bisa suka sama kamu

Mawar : “Ya biasa lah jawaban standar laki-laki. Dia bilang doi nyaman sama gue, katanya gue baik, bibleverse, rajin, dari keluarga baik-baik, berpendidikan, kalau chatting katanya gue welcome ngga sombong, asik diajak cerita dan sharing, hidup gue menginspirasi dia banget, sederhana, sopan, kalem, luas wawasannya, dan secara fisik katanya cantik. Tapi menurut gue omongan dia itu cuma gombalan nonsense yang garing kaya keripik tempe. Kan dia engga tahu gue itu sebenernya gimana, orang dia engga pernah serumah sama gue, engga 24 jam hidup sama gue, darimana dia tahu?” *oke cukup dengan semua pujian dari pria itu, sushi yang saya makan nyaris kembali berbentuk ikan*

Saya : “Dia tahu ngga kalau kamu kentut itu bisa tiga tangga nada? Emang frekuensi kalian ketemu gimana? Terus kamu tahu tentang dia ngga?” tanggap saya seadanya sambil menangkap maksud teman saya ini (I got her point)

Mawar : “Paling ya kalau cuma di kantor papasan tiap hari, keluar bareng tiap minggu ga tentu, sekalinya ketemuan sejam – dua jam. Ke gereja kalau gue lagi mood ada temen aja. Jujur aja gue ngga tertarik sama dia, makanya gue ngga berteman di sosmed karena gue engga ngeliat orang dari layar hape. Sekarang sih ya gue cuma tanggepin as usual kalo WhatsApp, secara professional aja. Gue heran deh dari mana bisa yakin gue itu tipenya dia?

***

Antara suka dan sayang itu beda banget! Dan tiap orang punya caranya sendiri dalam mengartikan rasa suka.

Ya menurut saya bahwa ketika suka dengan sesuatu, ciri-cirinya sederhana. Suka itu karena ada ‘point of interest‘. Misalnya “eh mobil itu warnanya bagus ya, saya suka lihatnya” atau “saya suka dengan pakaian kamu, terlihat pas di badanKetika sedang suka dengan sesuatu, sebetulnya tidak perlu benar-benar mengenal spesifikasinya secara detail. Jika hanya sekedar suka, ketika sedang beranjak untuk mengenal lebih dan ternyata menganggap tidak cocok bisa jadi dengan santai tanggapannya “oh gitu? ya udah deh saya lihat-lihat dulu“. Bahkan jika merasa nyaman dan merasakan kangen, belum tentu sedang ‘falling in love‘.

Karena nyaman dan kangen itu tidak selalu artinya benar-benar butuh banget. Seringkali maksudnya hanya ingin sekedar ditemani ngobrol, jalan, atau makan.

Kenapa saya tanyakan frekuensinya? Jika seseorang itu frekuensi bertemunya jarang dapat ditarik kesimpulan ya cuma tertarik aja. Kalau agak sering ya bisa jadi suka dan pengin lebih mengenal. Kalau minta ketemuan terus karena kalau tidak bertemu bisa sakaw ya bisa jadi dia psikopat yang nafsunya besar.

Suka itu tidak bisa dihindari dan ditolak, suka itu bebas termasuk sayang. Tetapi suka belum tentu akan memberi kasih sayang. Ketika bilang suka, prinsip di otak adalah WYSIWYG (what you see is what you get), seringkali spontan. Tidak ada yang salah. Yang jelas jika sayang maka akan berusaha membahagiakan orang yang disayangi, kalau suka? Ya kan baru suka, kok sudah ngarep. Ketika menyatakan suka dan sayang dengan tulus, justru seringkali dikira ingin memiliki dan meminta untuk menjadi pasangan. Padahal menyatakan tidak sama dengan meminta, bahkan terkadang dengan tega dianggap ‘mengharap.

Saya merasa beberapa manusia di bumi yang bulat ini hobi berpikir terlalu jauh, orang Jawa bilang tresna jalaran saka kulina. Dan saya bahkan yakin si pria itu belum sampai pada tahap ‘kulina‘ apalagi ‘tresna‘. Teman saya terdiam, terlihat serius mantengin smartphonenya. Kampret memang, dia tidak mendengarkan saya dan sedang sibuk cari Grabcar. Sebelum naik mobil, teman saya membuka bibirnya “mungkin gue yang terlalu sensitif dan ge’er, dia bilang suka doang. Thanks udah remind, mungkin gue skeptis antara suka dan sayang itu sama aja modusnya.

Jadi ada apa dengan rasa suka? Saya malah lebih takut dibenci daripada disukai lhoh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.