Nanjak di Ketinggian Lagi?

“Ayolah Di, tahun ini terakhir. Jangan sekarang lah!” ‘undangan’ dari Ari membuat saya semakin rindu untuk mendaki.

Tidak terasa sudah dua bulan ini ada yang aneh di kamar saya. Tampak lebih kosong. Saya senang dengan sesuatu yang tenang dan ketinggian menyediakannya bagi saya. Naik gunung adalah salah satu bentuk passion di hidup saya yang paling susah untuk tidak dilakukan. Naik gunung bagi saya bukanlah ajang pamer kekuatan fisik, saling menjatuhkan mental, lomba siapa yang tercepat dan terbaik, dan bahkan pamer foto di media sosial dengan caption “eh saya lagi travelling lho! how beautiful my life is“.

Continue reading “Nanjak di Ketinggian Lagi?”

Nanjak di Ketinggian Lagi?

Rasa Suka Itu?

Minggu lalu saya janji bertemu dengan teman SMP. Akhirnya jumat malam kami berdua nangkring di resto sushi yang cukup mainstream dan berlokasi di Gandaria City. Kebetulan sudah lama tidak tatap muka secara langsung semenjak kucing kami gagal berjodoh tahun 2009, jadi banyak hal yang dia ingin ceritakan. Mulai dari kehidupan dia sehari-hari, pekerjaan dia, rencana lanjut sekolahnya dia, hingga gebetannya dia. Sedangkan saya cuma mampu cerita score game Flappy Bird yang udah berhasil tembus 300 di awal tahun ini *menyedihkan*

Continue reading “Rasa Suka Itu?”

Rasa Suka Itu?

Steller, Story Teller!

Daripada sosial media yang ramai seperti Instagram, saya lebih cocok dengan Friendster. Karena melalui Friendster saya mengenal dunia blogging. Yup, saya justru tidak pernah memanfaatkan fitur sosial media dari Friendster sebetulnya. Sosial media yang ideal bagi saya justru yang pasif, informatif sekaligus sangat deskriptif, dan tidak ramai alay hehe. Karena jika hanya sekedar online friendship, wall to wall, testimoni, komentar, dan likes namun tidak membangun bukanlah esensi dari sosial media bagi saya. Itulah kenapa saya sendiri lebih menggandrungi layanan blogging daripada Instagram.

Continue reading “Steller, Story Teller!”

Steller, Story Teller!

Kangen Bapak

Beberapa waktu yang lalu saya menonton Guardians of The Galaxy Vol. 2 bersama Mas Ore dan Mbak Nila. Filmnya bercerita tentang pertemuan Star-Lord dengan ayahnya. Sosok yang dari kecil ia sendiri tidak tahu dan mengenal. Hingga akhirnya bertemu, meski di akhir cerita…. Ah sudahlah, tonton saja sendiri hehehe. Saya tidak bermaksud mereview tentang film tersebut. Ada satu scene dengan soundtrack yang sangat menyentuh hati saya. Yaitu pada saat adegan perjalanan Star-Lord dengan ayahnya di planet Ego lalu mengalun lagu Father and Son by Cat Steven.

Continue reading “Kangen Bapak”

Kangen Bapak