Pendakian Gunung Merbabu – Suwanting

“Eh, besok itu libur panjang ternyata dan cuti masih belum dipakai nih” Itulah yang terpikir di benak saya malam itu. Singkat cerita akhirnya memberi kabar orang rumah bahwa saya akan pulang hari Jumat meski belum memiliki tiket. Membuka aplikasi tiket.com di handphone, memilah transportasi dan ternyata kereta api sudah habis terjual. Setelah menimbang, ah untuk apa pulang jika semahal itu dan melanjutkan membuka aplikasi Instagram. Salah satu posting tentang Merbabu kembali menggugah hati saya untuk berpikir sejenak. “Ah tidak ada salahnya pulang demi bertemu sang kekasih” Tidak lama kemudian saya menghidupkan laptop dan mengakses tiket.com untuk memesan tiket pesawat. Mahal, tapi demi sang ‘mantan’ yang sudah menanti lama untuk bertemu kembali ya bukan suatu halangan tentunya 🙂

7 tahun yang lalu dan flashback

“Jika suatu hari saya kembali ke sini untuk berbincang, berarti kamu masih menantikan saya dan kamu masih ada di hati saya – Puncak Trianggulasi”

Saya segera berkemas, membawa 2 tas carrier karena akan mendaki bersama adik saya Rian. Perlengkapan pun sudah dicek dan lengkap. Saya sadar bahwa untuk kembali mendaki gunung ini membutuhkan persiapan yang baik. Jangan sekali-kali meremehkan kecantikannya. Karena hatinya tidak akan didapatkan dengan kecerobohan.

  • 1 tas carrier 60 lt
  • 1 tas carrier 45 lt
  • 1 tenda kapasitas 2-3 orang
  • flysheet
  • kompor dan alat masak komplit
  • 2 jas hujan
  • 4 botol air mineral 1.5 lt
  • 1 botol air mineral 600 ml
  • 1 spagetti + 1 kaleng sarden
  • 6 indomie
  • 6 fitbar coklat
  • 2 snack kacang
  • minuman hangat (milo, teh, green tea, dan kopi)
  • 2 set alat penerangan plus power bank
  • 2 tripod dan kamera
  • Pakaian ganti, obat, dan perlengkapan pribadi

Jumat pagi saya berangkat menuju bandara Halim Perdana Kusuma untuk flight pukul 10.00 dengan pesawat Citilink. Sempat jengkel karena saya sudah on-time namun justru penerbangan delay sekitar 30 menit tanpa kompensasi. Tapi ya sudahlah, Merbabu pun tidak akan beranjak dari singgasananya. Tepat pukul 10.30 pesawat lepas landas dan mendarat di bandara Ahmad Yani Semarang pukul 11.15. Naik taksi dari bandara menuju Terminal Sukun dan melanjutkan perjalanan ke rumah dengan Bus Safari. Memakan waktu 45 menit hingga akhirnya benar-benar sampai di rumah. Senang sekali sampai di rumah, suasana dan atmosfernya berbeda dengan ibukota apalagi kosan saya yang semakin hari semakin tidak terurus hehe. Bercanda dengan keluarga. Malam harinya saya dengan Rian kembali mendaftar barang-barang bawaan yang akan kami bawa esok paginya.

“Hatinya pun berdegup kencang, mendengar kabar saya akan datang untuk bertemu”

Sabtu subuh, tepat pukul 05.00 saya terbangun. Kami bergegas untuk packing dan berbagi tugas, saya bagian perlengkapan dan Rian bagian konsumsi. Kami berangkat dari Rumah tepat pukul 08.00 dengan mengendari motor dan sarapan terlebih dahulu di Soto Semarang. Ingat, naik gunung itu jangan cuma pikiran yang tidak boleh kosong. Perut juga tidak boleh kosong. Bisa lemas dan tidak bertenaga. Tidak tanggung-tanggung, saya menambah porsi sarapan dengan menyantap Tahu Campur Pak Min yang cukup legend di Salatiga. Setelah cukup sarapan, kami mengambil jalur menuju Kopeng – Magelang. Jam tangan sudah menunjukan pukul 09.00. Cuacanya sangat cerah, terik matahari yang hangat dan tidak panas selama perjalanan membuat saya cukup excited. Dari Salatiga menuju Desa Suwanting harus menempuh jarak sekitar 30 km dan artinya sekitar 1 jam perjalanan dari Salatiga.

Selama perjalanan dari Salatiga menuju Kopeng kami disuguhi pemandangan yang indah. Mulai kebun warga yang sedang panen, Salib Putih yang asri, hutan pinus yang hijau, Gunung Andong yang centil menggoda untuk didaki, area wisata Kopeng, dan udara dingin yang ‘menampar’ wajah. Rasanya memang Merbabu sedang menantikan kami. Dari jauh Merbabu tertutup oleh awan lembut, tampak tersipu malu untuk bertemu. Jalanan kosong lengang sehingga kami sendiri merasa tidak perlu tergesa-gesa, toh banyak pemandangan yang akan sangat sayang untuk kami lewatkan jika terburu-buru. Jalan raya yang berkelok-kelok dan semakin menanjak membuat saya sendiri deg-degan dan harus extra hati-hati ketika berkendara. Sekitar 30 menit lebih akhirnya kami sampai di Getasan, dari Getasan kami mengambil arah kiri untuk menuju Keteb Pass. Dari Getasan menuju Desa Suwanting berjarak sekitar 12 km. Dari jalan raya aspal mulus berubah menjadi jalanan yang rusak dan naik turun. Sempitnya jalanan turut menambah rasa was-was ketika mengendarai motor. Harus extra hati-hati karena rawan terjadi kecelakaan. Hutan bambu di kanan kiri menjadi daya tarik tersendiri dan menghilangkan rasa penat.

“Senyumnya menghiasi awal pertemuan, sapanya hangat”

Tiba-tiba Rian nyloteh “Eh mas, itu di sebelah kiri ada gapura Desa Suwanting” Akhirnya kami hampir sampai juga, dari gapura menuju Base Camp Suwanting masih dapat ditempuh dengan motor. Hanya berjarak 10 menit. Jalanannya bukan aspal dan sangat sempit bahkan 2 mobil berpapasan pun pasti sangat menyusahkan, jadi tidak perlu ngebut karena seringkali bertemu dengan truck pickup. Slow but sure. Sesampainya di Base Camp, ternyata sangat ramai oleh para pendaki yang lain. Suasananya ‘pecah’, asik banget karena kami tidak sendiri. Banyak tempat peristirahatan bagi para pendaki, tidak perlu terburu-buru untuk langsung berangkat. Ngobrol-ngobrol dengan para ranger, kami berdua dibantu untuk mendaftarkan diri dan menitipkan kendaraan. Di basecamp kami tidak makan siang karena masih kenyang. Hanya sekedar cek kembali barang bawaan. Cuacanya berawan dan cukup panas tapi herannya sinar matahari tidak terik menyengat. Bahkan kabut pun sirna siang itu.

Setelah selesai mendaftar, kami ‘dibekali’ peta oleh ranger dan dianjurkan untuk mematuhi peraturannya. Setelah kami cek dan oke, kami berdua pamit untuk menanjak. Jalanan di desa Suwanting sangat ‘khas’ dengan suasana Jawa Tengah, ranger dan penduduk yang sabar serta penuh senyum. Kami berdua menyusuri jalan setapak berbatu rapi, dan setiap bertemu dengan penduduk kami bertegur sapa. Salam hangat khas penduduk lokal “mas pinarak rumiyin? bade munggah? ati-ati nggih” Senyum para warga yang tulus, setulus rasa rindu saya kepada Merbabu. Saya dan Rian ngobrol-ngobrol ringan dan berjalan santai melewati rumah penduduk. Selang 15 menit kami berdua sudah melewati desa untuk menuju area perkebunan warga. Lumayan sih, track via Suwanting dikenal cukup curam tetapi memiliki pemandangan yang memukau. Meskipun ada yang bilang track lewat Tekelan jauh lebih ‘gila’, dan sayangnya rasa rindu saya tidak ‘segila’ itu. Dari desa menuju start pendakian membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit melewati jalan setapak berbatu rapi. Jadi tidak licin meskipun terguyur oleh hujan.

Mari Mulai
Rian dan Si Kuning
Istirahat Sejenak

Akhirnya setelah berjalan selama kurang lebih 20 menit dari perkebunan warga kami sampai juga di hutan pinus. “Kok ya sudah keringetan gini ya Yul?! Masih semangat ngga?” canda saya sambil mengelap keringat. Saya tertawa melihat wajah Rian yang sudah lesu hehe. Hutan pinus merupakan penanda bahwa pendakian kami sebenarnya baru saja dimulai, berfoto sejenak di hutan sembari mengumpulkan tenaga. Di peta semua jalur disebut dengan lembah termasuk nama posnya sehingga sangat perlu untuk diperhatikan, jangan sampai disorientasi karena dapat berakibat fatal. Area hutan pinusnya sangat luas dan jarak antar pohonnya sangat rapat sehingga beresiko tinggi untuk tersasar. Jangan sembarangan memotong jalur, cukup ikuti jalur yang sudah disediakan. Jangan sok tahu dengan membuka jalur seenaknya. Merbabu punya caranya sendiri untuk bertemu dengan kita. Ikuti saja keinginannya. Kami segera berfoto-foto di dekat Pos 1. Suasananya sangat syahdu dan instagramable untuk segera diupload hehe. Tapi berhubung kami berdua punya target yang harus dipenuhi jadi tidak dapat berlama-lama di hutan pinus.

Hutan Pinus
Menyusuri Keindahan Alam
Instagramable

“Kita berbincang dan saling menyuguhkan perasaan”

Waktu sudah menujukan hampir pukul 11.00 siang. Kami berdua segera tancap gas. Hutan pinus yang rimbun dan sejuk membuat saya terpana dan tertegun “ternyata kamu masih belum berubah” Oh iya, track selama di hutan pinus berupa jalur tanah. So kudu hati-hati ketika melangkah, pastikan sandal dan sepatu tidak licin. Selama di hutan pinus, kami hanya berjumpa dengan segelintir pendaki. Kami kira akan banyak yang berangkat di siang hari itu, ternyata tidak. Jadi tentunya jalanan tidak akan ‘macet’ hehe. Nampaknya semalam Merbabu habis menangis bahagia, jalanan cukup basah namun tidak berlumpur. Cukup mudah untuk dilewati sehingga saya dan Rian tidak banyak berhenti. Paling hanya sesekali untuk menghela nafas. Tidak terasa sudah hampir 3 lembah kami lewati (lembah Gosong, lembah Cemoro, dan lembah Ngrijan).

Stick With You

Dari lembah Cemoro sebetulnya track sudah mulai terasa berat tanjakannya. Tidak curam, namun seperti anak tangga parit yang tiada ada habisnya. Kanan kiri diapit oleh tanaman khas hutan. Untung jalurnya masih terlihat jelas sehingga tidak perlu berasumsi akan lewat mana setelahnya. Setelah melewati lembah Ngrijan kami berdua berhenti sejenak untuk beristirahat. Tiba-tiba langit mendung dan gerimis kecil. Tidak berani mengambil resiko saya dan Rian segera mengenakan jas hujan. Di tempat itu para pendaki yang lain pun melakukan hal yang sama. Berhenti sejenak dan lalu kami berdua kembali melanjutkan perjalanan. Target kami berdua, pukul 13.00 sudah harus sampai di Pos 2. Perjalanan menuju Pos 2 ternyata berubah drastis, ibarat seperti merubah topik pembicaraan dengan Merbabu. Dari bertegur sapa menjadi obrolan dan pertanyaan yang mulai ‘menjurus’ Kami berdua disuguhi tanjakan batu dan tanah yang cukup curam, lutut bertemu dada. Dari lembah menuju Pos 2 kami tempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit. Cukup untuk membuat kami berdua kepayahan dan kelaparan. Dan beban carrier kami berdua mulai sangat terasa.

Semangat Bro!
Tanjak Terus!
Pak Pos

“Percakapan itu berujung pada masa lalu, bukan masa depan”

Almost There

Hampir putus asa karena tanjakannya yang sadis, ternyata di atas saya melihat pendaki yang lain sedang duduk-duduk santai. Saya pun berteriak “Yul, itu di atas sudah Pos 2, ayo dikit lagi terus kita masak” Rian pun mengikuti saya sambil menghela nafas, memang harus sabar menghadapi medan bebatuan ini. Jika tidak sabar pasti hanya akan menambah rasa lelah. Curamnya track turut menambah rasa was-was kami. Salah sedikit mengambil langkah, maut dapat menjemput. Di sebelah kanan kami jurang yang cukup curam. Jika selamat ketika terjatuh, pasti juga akan susah untuk kembali ke track semula karena hutan di bawah sangat lebat dan pastinya tidak mudah untuk dilewati. Ah daripada saya berpikir bahwa saya akan jatuh, lebih baik saya terus melangkah untuk segera sampai di Pos 2. Kurang dari 10 menit kami berdua sudah sampai di Pos 2 tepat pukul 12.50.

Amazed by His Grace

“Meminta maaf, apakah masih ada kesempatan. Tangisannya adalah rasa rindu”

Pos 2 sangat luas dan mungkin cukup untuk membangun 4-5 tenda besar. Sesampainya di Pos 2 saya dan Rian segera menyiapkan peralatan untuk masak. Belum 5 menit kami berdua memasak air untuk merebus Indomie, saya justru tidak sengaja menjatuhkan air mendidih. Sial banget harus masak ulang, tapi untung mienya baru dibuka dan belum direbus. Tiba-tiba langit benar-benar menjadi sangat kelam, anginnya berhembus kencang dan dinginnya itu menembus tulang. Boleh diolok lebay, tapi jika merasakan kanan kiri depan belakang adalah AC yang diset 16 derajat mungkin dapat memahami apa yang dialami oleh kami dan para pendaki lain di Pos 2 hehe. Flysheet belum selesai dipasang dan packing, kami sudah diguyur oleh hujan lebat. Angin dan hujan, kombinasi yang benar-benar ‘asoy’ ditambah flysheet kami berdua yang belum terpasang. Dengan sangat terpaksa saya dan Rian membuat flysheet kami menjadi semacam selimut untuk menutupi kami dan barang bawaan. Jadi dapat dibayangkan di lapangan terbuka kami berdua tampak seperti anak kecil yang selimutan di bawah terpal. Awalnya sih tidak terlalu basah dan dingin hanya sedikit lembab. Tapi setelah 30 menit lebih hujan deras dan tidak berhenti kami berdua mulai menggigil kedinginan.

Flysheet mulai sangat lembab dan membuat kami merasa sangat tidak nyaman, apalagi tanah yang basah membuat barang-barang di tas rentan ikutan basah. Gilanya lagi hujan justru semakin menjadi-jadi. Membuat saya berpikir, apakah mungkin saya tidak diijinkan untuk menjamah gunung ini lagi? Setelah kurang lebih 1.5 jam kami menanti dan hujan sedikit reda akhirnya memberanikan diri untuk memperbaiki flysheet dengan dibantu oleh pendaki lain. Disinilah kekompakan para pendaki sangat nampak ketika yang lain susah hehe. Saling membantu, you will never walk alone kata fans Liverpool. Setelah flysheet dipasang dengan benar, kami berdua segera kembali memasak Indomie dan packing. Tidak mau membuang waktu hehe, takut hujan datang kembali. Setelah lahap menyantap 2 bungkus Indomie, kami langsung bergegas membereskan flysheet dan menuju Lembah Manding. Perjalanan menuju lembah Manding tidak terlalu terjal. Namun karena hujan membuat jalanan track tanah menjadi licin serta gembur, kami perlu extra berhati-hati. Dari Pos 2 menuju Lembah Manding kami tempuh dalam waktu kurang lebih 15 menit. Kami berdua tidak cepat namun konsisten. Lebih baik beristirahat untuk menghela nafas 1-2 menit lalu melanjutkan perjalanan selama 10 menit.

Indomie Double Rasa Tahu Tek

Lembah Manding merupakan track terpanjang dan terberat selama pendakian, so be brave! Dari lembah Manding jangan berharap ada jalanan yang datar dan berbatuan. Tracknya hutan rapat, pohon tumbang, jalur tanah, kemiringannya tidak tanggung-tanggung, perlu panjat memanjat (bahkan perlu bantuan tali agar tidak tergelincir), licin gembur, terjal, banyak akar berseliweran, harus lewat parit, hampir tidak ada tangga tanah, dan pastinya lumpur. Intinya semua yang para pendaki tidak ada inginkan justru semua menjadi satu ada di tempat ini. Mental saya kembali diuji, teringat pendakian di Cikuray. Memang jika dibandingkan Cikuray, jalur Suwanting masih bersahabat. Tetapi siapa yang menyangka di Merbabu ada jalur yang segarang ini. Gunung yang sudah putus nyambung 2 kali, ternyata menyimpan kejutan yang tidak terduga. Perjalanannya sangat berat, saya benar-benar mengalami “5 detik melangkah, 30 detik istirahat” hehe. Dengkul benar-benar sangat nyeri. Pundak juga tidak kalah pegal, lihat Rian juga nasibnya sama-sama mengenaskan. Lagi-lagi kata sabar terngiang di kepala saya. Sudah hampir 1.5 jam melangkah, Pos Mata Air masih belum juga terlihat. Ditambah gerimis-gerimis kecil yang tidak ada habisnya.

Lembah Manding
What The…..
Merapi Dari Kejauhan
Upside
Take a Breath

Waktu sudah menunjukan pukul 16.00, saya merasa sangat jenuh. Rian juga sudah benar-benar drop. Formasi kami adalah saya berjalan di depan untuk menentukan track sedangkan Rian mengikuti, yang awalnya hanya berjarak 10 langkah menjadi 20 langkah. Kami berdua sudah sempoyongan. Track masih juga belum berubah agar menjadi lebih bersahabat, monoton dan tidak segera sampai. Benar-benar konsisten jalurnya, rasanya itu mirip dengan waktu saya pergi ke Tangerang. Sudah sampai di kota Tangerang tapi penunjuk arahnya masih juga mengatakan kota Tangerang masih 10 km lagi dan tiba-tiba saya sudah sampai di Serang. Benar-benar jika ada pendaki yang sedang turun lalu teriak “Pos 3 tinggal 15 menit” jangan dipercaya hehehe. Waktu sudah hampir pukul 17.00, dan akhirnya saya memutuskan untuk beristirahat sebentar sambil menunggu Rian yang sedang bersusah payah menyusul. Kami beristirahat agak lama, sekitar 15 menit untuk mengambil momen sunset sebentar. Setelah sudah sedikit pulih, kami langsung tancap gas menuju Pos Mata Air, dan akhirnya setelah konstan berjalan melewati rintangan-rintangan tersebut kami sampai juga di Pos Mata Air tepat pukul 18.15. Selama perjalanan menuju Pos ini sudah menghabiskan 1 botol air 1.5 lt dan 1 botol 600 ml. Di Pos ini pun kami merefill botol-botol tersebut untuk cadangan air di Pos 3.

“Tertawa manja, memberikan rasa sejuk. Aku terlelap dalam dekapnya”

Our Tent and The Mist
Nuansa Biru dan Tenang

Jalanan sudah sangat gelap dari Pos Mata Air menuju Pos 3. Rian menghidupkan senter, sedangkan saya memilih penerangan dengan penerangan handphone. Track sudah tidak terlalu menanjak namun sangat panjang dan berkelok-kelok melewati Sabana yang cukup licin karena lumpur. Hanya dalam waktu 15 menit akhirnya kami sudah sampai di Pos 3. Udaranya cukup dingin dan saya sudah benar-benar sangat kelaparan. Tidak buang waktu saya dan Rian segera membangun tenda tepat di bawah track menuju Sabana. Kami memilih area yang tidak terlalu banyak pohonnya. Karena kebetulan sudah diingatkan oleh pendaki lain yang sudah 2 hari ngecamp di area tersebut bahwa Merbabu sedang rawan badai. Takutnya tenda tertimpa dahan. Setelah selesai membangun tenda saya memasang flysheet dan Rian beres-beres tenda. Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian saya segera membuat minuman hangat dan memasak makanan. Lagi-lagi Indomie sangat berjasa hehe. Malam yang dingin itu ditambah hujan kembali yang cukup deras membuat saya memilih untuk diam di tenda memutar lagu dan segera beristirahat. Seolah Merbabu paham bahwa kami benar-benar lelah.

Amang-Amang Burjo
Milo Hangat Dulu Gan

Saya tertidur dengan cukup pulas, tetapi Rian justru tidak dapat tidur. Dia merasa sedikit-sedikit terbangun karena selain lelah udara yang cukup dingin dan di luar anginnya sangat kencang. Sedangkan saya karena saking lelahnya hampir tidak terbangun malam itu. Sekitar pukul 03.00 saya terbangun untuk cek keadaan di luar. Ternyata kabutnya sangat tebal. Saya mengurungkan niat untuk keluar dan memilih kembali beristirahat.

“Dia menangis, rasa ini terlalu cepat. Kamu tahu bahwa ketiga puncaknya berarti adalah bertemu, berbincang, dan berharap”

Green Tea Bro?
Primadona!

Sekitar pukul 05.30 kami berdua bangun dan segera memasak air untuk membuat minuman hangat. Rian memilih kopi sedangkan saya membuat green tea latte. Setelah sedikit berdebat apakah akan tetap pergi ke puncak, akhirnya saya dapat meyakinkan Rian untuk ikut ke puncak. Berbekal 1 botol air mineral dan snack kami berdua bersama beberapa pendaki dari Tangerang berangkat menuju Puncak Suwanting. Tanjakan dari Pos 3 menuju Sabana 1, Sabana 2, dan Sabana 3 tidak berat. Mungkin juga karena saya tidak membawa barang apapun selain kamera dan tripod. Rian sendiri nekat tidak memakai jaket. Akhirnya saya pinjamkan jaket saya. Saya lebih memilih untuk banyak bergerak agar tidak terlalu kedinginan. Kabut menuju Sabana 2 dan Sabana 3 sangat tebal. Jarak pandang hanya sekitar 50-100 meter. Udaranya juga lembab. Setelah kurang lebih 45 menit kami beranjak dari Pos 3, akhirnya sampai juga di Puncak Suwanting.

Sabana 1
There are No Future in The Past
A Glitch

Cuaca semakin memburuk, tiba-tiba angin berhembus sangat kencang dari arah bawah. Deras hujan, embun, kabut, angin semua menyembur ke arah kami yang saat itu sedang berada di puncak Suwanting untuk menuju ke puncak Trianggulasi. Awalnya tidak begitu masalah, tetapi lama kelamaan kulit terasa perih terkena dera air hujan yang cepat. Angin semakin kencang dan saya sendiri merasa saya hampir terpental saat tiba-tiba angin kencang mendorong saya dari belakang. Kami sadar itu adalah badai. Kami segera jongkok dan mendekatkan diri antar satu dengan yang lain agar tidak terlalu kedinginan. Saya segera menitipkan kamera dan handphone saya ke Rian. Cukup lama kami berkumpul dan berlindung di area tersebut, sekitar hampir 30 menit. Setelah dirasa cuaca benar-benar tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan kami semua memutuskan untuk kembali ke Pos 3. Kami semua segera bergegas meninggalkan puncak karena badai semakin menjadi-jadi. Hembusan anginnya sangat kencang, kulit terasa perih dan mata juga terasa pedih. Mirip saat naik motor dengan kecepatan tinggi lalu terkena percikan air hujan.

Suuuuuwanting!

Jika tidak berhati-hati maka dapat terlempar dan terjatuh terkena badai hujan angin tersebut. Kami terburu-buru turun dari puncak tanpa berhenti agar dapat segera beristirahat. Sesampainya di Sabana 1 badai sedikit reda. Pakaian saya basah kuyup, Rian juga nampak pucat pasi kedinginan. Kami berdua segera masuk tenda dan berganti pakaian hangat. Sangat apes, saat akan membuat minuman hangat ternyata kompor saya terlalu lembab dan tidak dapat menyala. Untungnya masih menyimpan cemilan untuk menambah kalori. Alhasil pagi itu kami berdua hanya sarapan cemilan seadanya tanpa makan berat. Kami berdua kembali menghangatkan diri di balik sleeping bag. Angin dan hujan deras turun selama kurang lebih 2 jam. Setelah itu cuaca kembali cerah dan kami segera packing. Tidak memakan waktu lama, dalam waktu 20 menit semua perlengkapan kami sudah kembali masuk ke dalam tas. Dan saya tersadar dari kejauhan Gunung Merapi terlihat sangat megah. Awan dan cuaca kembali cerah. Saya rasa Merbabu hanya ingin berjumpa sejenak. Dia kembali tersenyum kepada kami.

Sabana dan Merapi
Nandcep the Explorer
One Day
Trio Macan

Turut terlihat juga dari jauh Gunung Sindoro, Sumbing, dan Slamet berdiri megah. Seandainya masih ada waktu, saya masih ingin menjelajah. Waktu sudah menunjukan pukul 11.00 siang. Kami berdua menyempatkan diri untuk bernarsis ria di padang Sabana Pos 3.

“Dan dia tahu bahwa ketika yang dikasihi akan kembali beranjak, beribu cara akan dia lakukan agar tidak kembali terpisah”

Hari semakin siang, awan kembali menggumpal hitam. Merbabu nampak tak ingin segera kami tinggalkan. Kami berdua segera turun dari Pos 3 menuju Pos Mata Air. Perjalanan naik kami kira sudah sangat menyiksa, ternyata salah. Perjalanan turun tidak kalah ‘seru’ Curam, licin, gembur, lumpur, dan sangat tinggi. Tanah liat juga tidak kalah lengketnya, berkali-kali kaki saya seperti terkena lem sehingga tidak memungkinkan untuk berlari. Harus ekstra hati-hati dalam memilah track. Salah-salah saya dapat terjatuh terguling. Beberapa kali saya mengalaminya. Yang paling parah saat turun dari Pos Mata Air menuju Lembah manding, dari ketinggian 2 meter saya terperosok dan tergelincir sampai tangan saya memar terantuk dahan-dahan pohon untuk menahan badan agar tidak terjun bebas. Adrenalin saya benar-benar terpacu. Yang ada dipikiran saya adalah “harus pulang sampai rumah dengan selamat” Merbabu nampak benar-benar belum dapat merelakan kami untuk segera kembali ke basecamp. Bertemu enggan, berpisah pun sungkan. Berat sekali tracknya. Rian juga sama-sama mengalami banyak kendala, mulai dari terpeleset lumpur hingga kakinya lecet karena sepatu menggesek kulit di bagian tumit. Perjalanan turun tidak semudah bayangan kami berdua. Selama perjalanan kami tidak banyak berhenti. Jika pun berhenti hanya untuk mengistirahatkan lutut dan paha selama beberapa menit. Saya dan Rian sempat terpisah agak jauh, sekitar hampir 5 menit perjalanan. Kecepatan Rian sudah sangat drop, dia benar-benar kehabisan stamina sedangkan saya sendiri lebih ke arah takut keburu maghrib. Karena target sampai di Pos 2 sekitar pukul 16.00 dan kalau bisa lebih cepat maka lebih baik.

Compang-Camping
Makan Siang?

Kurang lebih dari Pos 3 hingga menuju ujung Pos 2 track yang sama terus menghantui. Track tali-temali pun harus benar-benar harus dilakukan agar dapat turun dengan selamat. Jika tidak maka selamat berperosotan ria. Di Pos 2 saya dan Rian memanfaatkan momen istirahat dengan sebaik-baiknya, sekitar hampir 10 menit kami duduk santai dan lalu melanjutkan perjalanan. Track bebatuan yang licin dan jurang di sebelah kiri kembali harus dihadapi. Sesampainya masuk ke arah hutan pinus untuk menuju Pos 1 akhirnya Merbabu dapat melepaskan kami dengan ikhlas. Kaki sudah terasa sangat kaku, paha saya sangat panas karena harus menahan beban selama track di Pos 3 dan Pos 2. Latihan lari yang saya lakukan setiap akhir minggu terbayar sudah. Track yang landai dan tidak curam justru menjadi tantangan tersendiri, karena artinya saya tidak dapat berlari padahal saya tipikal orang yang tidak dapat menahan kecepatan. Justru ketika menahan kecepatan stamina saya langsung drop. Untungnya hutan pinus yang teduh membuat kami jauh lebih merasa santai dan rileks. Tidak ada lagi adrenalin yang terpacu. Berbekal 1 botol air mineral terakhir yang akhirnya kami habiskan di Pos 1. Rian nampak sudah lebih baik semenjak sampai dan beristirahat di Pos 1. Selepas dari Pos 1 kami menempuh waktu kurang lebih 20 menit untuk menuju basecamp. Kurang lebih perjalanan dari Pos 3 menuju basecamp memakan waktu sekitar 5 jam. Tepat pukul 17.15 kami berdua sampai basecamp dengan selamat. Tidak ingin membuang waktu, setelah beristirahat sekitar 15 menit Rian memesan nasi goreng dan jeruk hangat sedangkan saya langsung mandi. Air pegunungan terasa sangat menyegarkan. Lelah di badan langsung hilang. Pukul 18.00 lebih saya dan Rian undur diri dari basecamp Suwanting untuk kembali ke Salatiga. Merbabu nampak tidak rela, lagi-lagi selama di perjalanan gerimis mengikuti kami hingga sampai di Salatiga.

Perjalanan ke Merbabu menutup episode pendakian saya untuk beberapa waktu ke depan. Merbabu sudah sangat banyak memberikan inspirasi kepada saya. Dan saya hanya ingin beristirahat sejenak dari ketinggian, terimakasih Merbabu. Kamu terbaik namun hati saya justru menjadi gundah karenanya 🙂

One thought on “Pendakian Gunung Merbabu – Suwanting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.