Pendakian Gunung Lawu

Pendakian di gunung ini sebetulnya adalah pendakian yang paling berkesan. Karena di pendakian ini banyak sekali cerita seperti saya dan Ega yang mungkin saja dapat kehilangan nyawa karena hipotermia, saya mendapatkan teman baru, dan saya menyadari betapa pentingnya kekompakan dalam pendakian. Memang terkesan lebay bukan? Tapi kenyataannya seperti itu. Setiap pendakian punya ceritanya masing-masing tentunya.

Summit Puncak Gunung Lawu
Rumah Botol dekat Hargo Dalem

Sekitar awal Mei 2016 saya dan Ega berencana untuk mendaki gunung di kampung halaman kami, yaitu di kota Karanganyar, Jawa Tengah. Untuk ketinggiannya sendiri dapat dikatakan cukup tinggi yaitu sekitar 3265 mdpl (dengan puncak Hargolawu). Jalur resmi pendakiannya ada 3 yaitu Cemara Sewu, Cemara Kandang, dan Candi Cetha. Jalur pendakian yang paling favorit adalah Cemara Kandang, sedangkan yang paling cepat adalah Cemara Sewu, dan yang paling lama tapi pemandangannya indah adalah Candi Cetha.

Ternyata diluar dugaan ternyata Om Marwan, Bulik Tuti, dan adik-adik saya (Debora dan Kella) ingin ikut. Bertambahlah anggotanya menjadi berlima termasuk saya. Perlengakapan seperti tenda, tas carrier, sleeping bag, alat masak, dan sepatu sudah kami siapkan dengan baik dan jadwalnya pun sudah ditata sedemikian rupa. Tepat di bulan Juni 2016. Perbekalan yang sudah disiapkan seperti minuman, makanan, snack, dan sebagainya pun tidak kalah ramai. Tapi saking lengkapnya akhirnya barang-barangnya pun menumpuk dan saya sendiri jadi malas untuk membawa sebanyak itu.

Setelah ditimbang-timbang karena ingin perjalanan pendakian yang nyantai diputuskan untuk sewa bantuan porter. Nah karena diputuskan untuk menggunakan jasa porter ya sudah saya akhirnya lebih memilih hanya membawa tas kamera backpack National Geographic seri NG5160 saja dan ini merupakan keputusan terbodoh dalam catatan pendakian saya. Astaga, kalau bisa mengulang waktu saya tidak akan mau lagi menggunakan tas ini untuk naik gunung yang memiliki ketinggian di atas 2500 mdpl. Gila parah, tas ini hanya mampu menampung

  • 1 kamera dan 2 lensa
  • 1 pakaian dalam, 1 celana ganti, dan 1 baju saya gulung sedemikian rupa yang kira-kira jadi sangat mirip dengan dadar gulung.
  • 1 handuk kecil dan alat makan
  • senter dan 1 kaleng gas untuk masak
  • 1 tripod
  • 1 jas hujan motor
  • 3 botol Aqua 600ml
  • 6 fitbar + 4 beng-beng

Intinya sangat tidak layak jika untuk tracking, bahkan untuk membawa matras dan sleeping bag saya gantung di tas dengan tali sepatu. Si Ega juga tidak berbeda jauh, berbekal tas gunung 45lt milik Rian yang sekitar sehingga juga tidak dapat menampung banyak peralatan. Hanya dapat membawa peralatan pribadinya sendiri plus

  • tenda kecil untuk 2 orang
  • flysheet dan kompor
  • 3 botol Aqua 600ml
  • makanan ringan seadanya dan 6 fitbar + 4 beng-beng

Kalau Om, Bulik, dan adik-adik sih lengkap peralatannya dan dibawakan oleh porter. Termasuk perbekalan dan perlengkapan utama saya dan Ega juga dibawa oleh porter. Berikut foto saya dan Ega dengan gear seadanya.

Kiri Saya dan Kanan Ega

Dan ini foto kami sekeluarga sebelum memulai pendakian.

Keluarga Pendaki

Dari Karanganyar kami berangkat dari rumah sekitar pukul 08.00 WIB pagi. Dan di tengah perjalanan Om Marwan meyakinkan kami untuk lewat basecamp jalur pendakian Cemara Kandang dan bukan lewat Candi Cetha. Kenapa? Karena sebetulnya Om Marwan dan Bulik Tuti sudah pernah mendaki Gunung Lawu lewat jalur ini sebelumnya. Ya sudah, karena mereka lebih berpengalaman saya dan adik-adik ya nurut saja.

O iya sebelum pendakian Om Marwan sempat-sempatnya memesan ayam yang siap dibumbu untuk dibakar dan santap malam, tapi sampai dengan akhir pendakian ayam-ayam tersebut entah bagaimana nasibnya hehe. Sesampainya di basecamp, kami mendaftar di pos jaga dan menyewa porter. Tas carrier keluarga Om Marwan yang terdiri dari 2 tas carrier 60 liter besar dishare ke porter dan 3 tas kecil lainnya adik-adik yang bawa.

Tepat pukul 10 lebih kami berangkat mendaki. Waktu di awal pendakian sangat sedikit pendakinya. Saya hanya bertemu dengan sepasang orang anak mahasiswa yang baru saja lulus dan sepasang mas-mas pendaki santai (yang akhirnya jadi teman pendakian di gunung-gunung selanjutnya). Cukup sepi karena saat itu juga sedang bulan puasa, sehingga yang mendaki kebanyakan adalah non-muslim. Dari pos jaga kami berjalan cukup santai, alon-alon asal kelakon kalau kata orang Jawa. Dan dengan bangganya saya berjalan di depan hahaha.

Dengan beban seringan itu saya dapat berjalan 2-3 kali lebih cepat dibandingkan dengan bawaan saya ketika mendaki Gunung Cikuray bersama Ari yang total bebannya dapat mencapai hingga 10-12 kg. Kalau di perjalanan ini mungkin hanya sekitar 5-7 kg. Kami sekeluarga berjalan cukup kompak awalnya. Perjalanannya sangat menyenangkan, tanjakannya dirasa cukup manusiawi dan tidak lebay. Tidak sampai lutut bertemu dada. Dari pos jaga tanjakannya berupa tangga dari batuan yang disusun.

Di Cemara Kandang, pohon-pohonnya cukup rimbun dan seringkali terlihat monyet-monyet sedang melompat di pepohonan. Dengan rimbunnya pohon dan cukup rapat, panas terik matahari tidak terlalu terasa. Jalur pendakian cukup jelas dan kita dapat membedakan mana jalur yang sering dilewati dengan jalur yang jarang dilewati oleh manusia. Hanya sekedar saran, jika musim hujan dan angin kencang sebaiknya berhati-hati karena jalur ini rawan pohon tumbang. Selepas dari pos jaga, hingga Pos 1 jalur berubah menjadi jalur tanah dan harus sedikit berbecek-becek karena malam sebelumnya diguyur hujan lebat.

Masih tentang tanjakan, seperti sebelumnya yang sudah saya sampaikan ya mirip-mirip tanjakan cantik treadmill jadi masih aman. Sampai dengan Pos 1, waktu tempuh kami sekitar 1.5 jam lebih. Pos 1 hanya berupa shelter bangunan tua. Sebetulnya ada warung di situ, tetapi karena sedang bulan puasa tidak beroperasi. Di Pos 1 kami bertemu dengan mas-mas pendaki santai, namanya Mas Widi dan Mas Setyo. Kami saling berkenalan dan ngobrol santai sambil menunggu Om Marwan.

Setelah Om Marwan sampai di Pos 1 dan memutuskan untuk beristirahat serta merokok bersama Mas Widi. Kami kembali melanjutkan perjalanan. Tidak terasa capek karena saya sendiri sibuk berjalan sambil mendengarkan musik dan memimpin di depan sembari mengobrol dengan Ega. Mungkin jarak antara saya, Ega, dan yang lain hanya selisih 1-2 menit. Tetapi karena rasa percaya diri saya yang terlampau ‘tinggi’ serta menganggap barang bawaan saya sudah lebih dari cukup, ya sudah saya mulai berjalan meninggalkan yang lain diikuti Ega yang berusaha mengimbangi.

Perjalanan menuju Pos 2 lumayan cukup jauh dari Pos 1, tanjakannya sih tidak seberapa. Tapi rintangannya yang menggila. Mulai dari harus melewati pohon raksasa tumbang (beneran ini pohon saya yakin umurnya di atas 70 tahun), merangkak karena ada dahan-dahan tumbang, panjat-panjat permukaan tanah yang longsor, dan rintangan lainnya yang lebih parah dari sekedar rintangan asmara karena ditentang orang tua #halah

Menuju Pos 2 ini baru sedikit berasa fitnessnya hehe. Awalnya sih bulik dan adik-adik masih dapat menempel. Tapi lama kelamaan mereka tertinggal. Akhirnya saya bilang ke porternya untuk tetap menemani bulik dan adik-adik, sedangkan saya dan Ega tetap lanjut. Inilah kesalahan fatal nomor 2 yang saya lakukan. Please jangan ditiru. “APAPUN MASALAHNYA, KELUARGA HARUS TETAP BERSATU” dan hal ini yang saya lupa. Yang saya pikirkan cuma ego saya untuk terus berjalan dan dapat sampai puncak under 10 hours. Bahkan Ega yang sudah ngos-ngosan jalannya tetap saya push untuk terus berjalan.

Dalam waktu kurang lebih 1 jam, saya dan Ega sampai juga di Pos 2. Di Pos 2 saya bertemu dengan sepasang pendaki mahasiswa yang baru saja lulus. Mereka kuliah di UNDIP dan berasal dari Sumatera. Kami ngobrol-ngobrol sebentar. Ya sekedar bercakap-cakap saja. Mereka berdua cukup kuat sih untuk ukuran pendaki muda, terlihat dari bawaan mereka yang cukup kontras jika dibandingan dengan saya. Mereka lengkap banget, bahkan air minum mereka membawa 5 botol 1.5 liter. Sekitar 15 menit kami beristirahat, akhirnya disusul juga oleh bulik dan adik-adik serta porter. Lalu pendaki mahasiswa itu pun melanjutkan kembali perjalanan mereka.

By the way, pos 2 ini merupakan spot favorit ketika nanjak di Lawu. Tempatnya asri dan hijau banget. Sejuk pula. Saya dan keluarga menyempatkan diri untuk foto-foto di sini.

Narsis Sebentar
Ega
Saya

Setelah cukup puas beristirahat total hampir setengah jam di Pos 2, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Nah, ini baru perjalanan yang sesungguhnya. Dari Pos 2 menuju Pos 3 itu ternyata sangat sangat sangat sangat sangat dan sangat jauh sekali. Saya pikir hanya seperti Pos 1 menuju Pos 2 yang dapat ditempuh 1 jam kurang. Ternyata tidak. Perlu setidaknya hampir 3 jam perjalanan.

Jalur pendakiannya diawali dengan jalur yang landai, tidak langsung menanjak secara frontal. Di lajur kiri adalah jurang dan hutan pinus yang cukup lebat, jadi harus extra berhati-hati dan harap memperhatikan jalur. Sama sekali tidak menanjak, karena hanya memutari punggung gunung. Sesampainya di Pos 3 Bayangan barulah muncul tanjakan maut. Gimana tidak maut? Saya dan Ega yang barang bawaannya ringan saja dibuat terengah-engah di jalur ini. Tanjakan yang tidak ada habisnya dan sangat licin karena harus melewati batu-batuan yang terkena lumpur.

Menuju Pos 3 Bayangan

Sekitar 40-50 derajad kemiringannya dan terus-menerus seperti itu. Belum lagi terkadang harus melewati undak-undakan tangga tanah yang licin. Kerap kali hampir terpeleset. Saya rasa sebetulnya Ninja Hattori itu tidak lahir di Jepang, namun di Gunung Lawu. Setelah melewati lembah melewati gunung. Beuh, perjalanan Pos 3 memang luar biasa. Bahkan saya dan Ega ada adegan memotong jalur dengan cara memanjat longsoran tebing agar lebih cepat 2-3 tanjakan. Tapi justru ternyata jadi lebih capek hahaha.

Tanjakan Menuju Pos 3

Sebetulnya jika tanjakannya tidak terus-menerus dan biasa saja sih saya tidak komplain. Tapi lha ini, tanjakannya ada terus. Bahkan setelah tanjakan masih saja ada tanjakan. Ibarat pemrograman, itu adalah infinity looping yang mengakibatkan heap memory penuh. Ega saja sampai akhirnya lemas sempoyongan. Nah di titik inilah keresahan kami berdua mulai sangat terasa.

  • Tidak sadar, kami berdua telah jauh meninggalkan yang lainnya
  • Air sudah hampir habis, tersisa masing-masing 1 botol
  • Snack tinggal beng-beng 2 biji
Setapak Kenangan

Tips utama naik gunung adalah, SIAPKANLAH MAKANAN BERKALORI TINGGI. Kadang tidak terasa memang. Tapi ternyata setiap jalan mendaki selama 15 – 20 menit kita sudah banyak menguras tenaga. Sehingga membutuhkan banyak makanan untuk mengganti kalori yang hilang. Dan seringkali adalah makanan yang mengandung gula karena cepat terbakar untuk menghasilkan energi. Astaga, kami berdua mulai panik. Akhirnya memutuskan untuk beristirahat sebentar demi meringankan beban hidup di pundak.

Naik Terus!

Jalur pendakian sangatlah sepi hanya saya, Ega, dan pohon-pohon tumbang yang berada di tempat itu. Yang lain masih jauh di belakang. Kami mulai merasa cemas, jalur pendakian kali ini adalah daerah yang mudah longsor. Ditambah kabut yang mulai menghalangi pandangan. Suasana cukup mencekam. Tetapi tiba-tiba terdengan suara orang mendekat. Dan taraaaaaaa, our savior deh memang mas bro satu ini. Mas Widi dan Mas Setyo ternyata yang datang. Mereka terlihat kaget karena melihat keadaan kami yang lemas menggemaskan mengenaskan hahaha.

Tidak sungkan-sungkan saya segera bertanya ke Mas Widi, “Mas, ada makanan ngga mas? Kita kehabisan mas! Sudah lemas banget mau pingsan!” Bayangkan saja, orang yang baru kita kenal langsung kita mintain tolong dan meminta jatah mereka. Dan tidak disangka Mas Widi langsung dengan sigap menyodorkan setoples parcel nastar lebaran. INI BENERAN NASTAR LEBARAN CUY! Dengan lahap kami berempat menghabiskannya. Lalu setelah itu Mas Widi menegur kami “Lah gila kalian berdua, Om sama Tante kalian itu dibelakang jauh banget lhoh! Kok malah kacau begitu? Kalian tinggalin gitu kasian adik-adikmu! Perbekalan kalian juga malah dititipin ke porter, bisa 1-2 jam kalian nungguin mereka! Sudah kalian di sini saja”

Istirahat Dulu

Lalu Mas Widi dan Mas Setyo melanjutkan perjalanan. Kami berdua cuma bisa terdiam, iya sih kata-kata Mas Widi benar juga. Tapi karena takut keburu sore, kami menyusul mereka dan kembali beristirahat di Pos 3. Di Pos 3 cuma ada shelter kecil yang hanya cukup menampung 1 tenda. Kami pun mengobrol tentang masing-masing pengalaman pendakian, lumayan dapat banyak ilmu hehe.

Pemandangan di Pos 3
Mejeng Dulu, Aslinya Udah Mau Nangis

Setelah puas ngobrol Mas Widi dan Mas Setyo kembali melanjutkan pendakian. Sedangkan kami lebih memilih untuk bersantai dulu sambil mengeringkan baju yang terkena keringat dan embun kabut. Kebetulan di Pos 3 saat itu waktu masih menunjukan pukul 15.00. Jadi matahari masih cukup panas dan kabut mulai menipis. Setelah kurang lebih hampir 30 menit. Kami bergegas menuju Pos 4. Perjalanan dari Pos 3 menuju Pos 4 melewati hutan pinus yang cukup menanjak terjal. Jalurnya tanah berbatu yang kalau kesandung saja sudah pasti alamak sakitnya.

Setelah merangkak kurang lebih hampir 1 jam, akhirnya kami melewati jalur yang cukup bersahabat. Tidak terlalu menanjak, jadi paha kami yang hampir kram dapat lebih diistirahatkan sejenak. Jalurnya batuan berpasir dan sisi kanan kiri kami adalah tebing. Jalurnya sebetulnya adalah spiral, jadi memutar. Yang lebih menghibur adalah pemandangannya sangat indah di sore itu. Cukup membuat kami lupa bahwa di bawah sana Om, Bulik, adik-adikku, dan para porter sedang berjibaku melewati jalur menuju Pos 3.

Mana Pemandangannya Ya?!
Narsis Sek!
Gumpalan Awan Sore

Matahari pun terbenam, tepat pukul 17.30 kurang akhirnya sudah sampai di Pos 4. Senter pun mulai dinyalakan. Perut sudah keroncongan, tenaga nastarnya sudah habis. Kami berdua berjalan dengan lunglai. Botol minuman tersisa hanya 1 botol. Dari pos 4 sampai dengan Pos 5 sebetulnya sangat dekat, yaitu sekitar 30 menit perjalanan. Nah kesalahan fatal selanjutnya adalah saya benar-benar lupa jika Om Marwan pernah memberi pesan “dari Pos 5 lurus saja, nanti tunggu di pendopo warung Mbok Yem” Nah kedodolan kami berdua justru tidak ke Pos 5 namun langsung ke Puncak!

Di sinilah sisi ekstrim pendakian ke puncak di malam hari. Kombinasi jalan yang sangat menanjak (namanya juga ke arah puncak) ditambah udara dingin yang mencapai 3-5 derajat celcius plus tidak ada tenaga karena capek dan sungguh lapar membuat akhirnya kami berhalusinasi. Tiba-tiba karena sudah ngeblank, akhirnya saya jatuh tidak kuat dan tiduran di tengah jalur sambil mengigau. Parahnya Ega ternyata begitu juga. Kami berdua nyanyi lagu-lagu rohani, ketawa-ketawa tidak jelas, dan saling berpesan “kalau salah satu bisa turun, tolong jangan lupa kabari salah satu dari kita masih di sini nunggu untuk dibawa pulang“.

Anjrit, serius waktu ngetik barusan langsung berasa merinding kalau inget kata-kata itu. Kita berdua itu sebetulnya sadar, tapi tidak bisa mengontrol pikiran dan omongan.

Tertidur agak lama, akhirnya badan kami sedikit lebih segar dan kembali melanjutkan perjalanan. Seolah kejadian tadi itu tidak pernah terjadi. Jalan sekitar 30 menit, samar-sama dari kejauhan saya melihat tugu. Dan akhirnya kami sampai juga di puncak tengah malam gan! Tepat pukul 19.30 kami sampai juga! Langsung lari ke tugu. Ternyata di tugu tersebut ada juga pendaki yang menginap di situ. Dan tebak siapa? Mereka adalah kedua pendaki mahasiswa yang baru lulus. Senangnya minta ampun.

Mereka berdua langsung menolong kami untuk membangun tenda dan membagi air minuman mereka. Senang banget, gilaaa tidak nyangka kan orang yang tidak kita kenal sama sekali ternyata care dan saling menolong?! Itulah pelajaran yang berharga ketika naik gunung. YOU ARE NOT ALONE! Sayangnya tidak ada satupun makanan dari mereka yang dapat kami garong haha. Karena kebetulan kompor mereka lembab. Eh tapi saya baru ingat Ega bawa snack ringan. At least masih ada kacang telor. Sungguh tidak bisa dilupakan, di tenda kecil kami berdua saling berbagi kacang telor dan minum air putih yang sudah sedingin air es. Semua rasa sombong dan arogan saya ketika naik ke Gunung seolah-olah menjadi penyesalan. Kalau saja saya tidak sombong pasti saat itu kami sedang asik bercengkerama dengan keluarga. Pelajaran yang sungguh NICE!

Langit malam di puncak saat itu indah maksimal, kalau bisa nangis saya bakal nangis. Milkyway menjulang tinggi di angkasa. Bintang-bintang gemerlap. Bak ketombe yang kalau dikasih shampo juga tidak bakalan hilang. Seriusan, keren banget! Kami bersyukur masih diberi kesempatan untuk tetap hidup tidak jadi mati di tengah jalan. Tapi karena udara semakin dingin kami memutuskan untuk segera beristirahat. Singkat cerita, keesokan paginya kami berdua bertemu dengan Mas Widi dan Mas Setyo. Mereka menemani kami untuk mencari Om dan keluarga. Puji Tuhan kami dapat berjumpa kembali.

Suasananya itu ya ampun, bahagia banget. Emang deh, FAMILY IS EVERYTHING! Di sini saya belajar meskipun betapa kamu membenci keluargamu, tapi kalau sedang susah mereka adalah tempat untuk pulang dan berbagi. Berhubung saya dan Ega masih belum puas karena camping kami berdua semalam mengenaskan, akhirnya kami meminta ijin untuk extend 1 malam lagi di dekat Pos 5. Sedangkan Om dan keluarga pulang kembali ke Karanganyar. Setelah packing dan membawa perbekalan yang layak meski dengan tas ‘cantik’, kami berdua melanjutkan malam di Sabana Tapak Menjangan. Happy ending lah pokoknya!

Sunset
Tenda Kecil Kami, Itu Atapnya diganti Tas Plastik! Dihilangin sama Ega, Jangkrik!
Api Unggun Dulu
Sabana Tapak Menjangan

Cerita pendakian sekian saja, aku cuma mau share bahwa kalau naik gunung itu kebersamaan yang lebih diutamakan. Jangan ego yang didengarkan. Jangan memaksakan. Perhitungkan segala kemungkinan. At the end, ini foto-foto selama di sabana. Fin.

Berjuta Bintang
Milkyway Upon Our Tent
The Galaxy

Foto are captured by :

  • Samsung Galaxy S6 edge
  • Oppo R2001 Yoyo
  • Sony A6000 Mirrorless

One thought on “Pendakian Gunung Lawu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.