Putra-Putri Lawu

Pertemuan dengan Nyai Lawu minggu lalu sangat menginspirasi. Nyai Lawu tidak lagi duduk di singgasananya di kaki Gunung Lawu, lebih memilih untuk menetap di Jogjakarta. Kenapa? Karena tidaklah lagi muda dan menginjak usia yang sepuh, beliau lebih tenang didampingi oleh putra dan putrinya. Alkisah tentang beliau, keluarga beliau sangatlah sederhana. Berpasangan dengan seorang mahaguru, melahirkan para putra-putri Lawu.

Kesederhaan terpancar dari gerak-gerik beliau berdua. Mahaguru Lawu yang lebih suka ngontel untuk menyebarkan ilmu meski tidaklah sebanding dengan rasa capai yang hinggap demi memenuhi kebutuhan para putra-putri Lawu. Demi memberantas kebodohan di kota yang sekarang sudah banyak melahirkan para punggawa bangsa. Tidak pernah menuntut balasan dari para murid, sang mahaguru tetap kokoh mengajar di sebuah sekolah negeri.

Putra-putri Lawu? Jangan mengira hidup mereka dengan penuh kemewahan. Mereka lahir dengan menjunjung kekuatan yang didasari dari kepedihan dan hidup tahan dengan kesulitan. Maka gelar “Prih” adalah kebanggaan untuk mereka. Pendidikan yang dienyam menjadi pokok dalam keseharian. Sang mahaguru dan Nyai tidak pernah melewatkan apa yang dilakukan oleh para putra-putri Lawu. Cerita lalu, sang mahaguru dan Nyai tidak ingin putra-putri Lawu menjadi malas, bodoh, berorientasi banda, dan lamban.

Diajarkan dari kecil untuk berusaha, belajar, dan rajin. Beragama dengan taat adalah kewajiban utama. Meski sang mahaguru adalah seorang yang keras-tegas perangainya, Nyai adalah kebalikannya. Kasih Nyai mengalir tanpa pernah putus. Seperti benang yang mengikat baju-baju untuk anak-anaknya agar tidak pernah kedinginan saat musim penghujan tiba. Mahaguru mengajar, agar para murid menjadi masyarakat yang benar. Maka inginnya adalah tidak muluk-muluk. Menginginkan penerus darahnya menjadi lebih dari sekedar mahaguru. Tidak harus menjadi mahaguru, melainkan menjadi diri mereka sendiri yang memancarkan berkat untuk sesama.

Mereka belajar penuh dengan ketelatenan, satu-per-satu mengenyam pendidikan secara bergantian. Sang mahaguru dan Nyai berusaha untuk memenuhi jiwa mereka dengan baik. Bukan hanya dalam bentuk jasmani namun juga rohaninya. Seringkali untuk mendapatkan sesuatu mereka harus bersabar. Seperti yang mahaguru ajarkan. Hiduplah dengan sederhana, tidak perlu berlebihan. Seorang demi seorang telah menyebar. Membawa apa yang disebut dengan harta kehidupan dari mahaguru dan Nyai. Berjuang di laganya masing-masing.

Puji Tuhan, putra-putri Lawu adalah para pendekar yang tidak pernah menyerah. Kasih mereka adalah kasih yang sabar seperti yang diajarkan dalam agama yang mereka peluk. Sang mahaguru dan Nyai sekarang memiliki sosok-sosok yang tabah dan kuat dalam menjalani hidup. Prestasi mereka tidak perlu diragukan. Keteladanan mereka tidak perlu dipertanyakan. Gemilang adalah selalu menjadi garis depan untuk mereka.

Sang pertama, sang peri kebun. Yang melahirkan 3 orang pejuang Merbabu.

Sang kedua, sang pengajar sabar. Yang melahirkan 2 orang penyegar jiwa.

Sang ketiga, sang brahma terang. Yang melahirkan 2 orang penggiat ilmu dan seni.

Sang keempat, sang inovator visioner. Yang melahirkan 3 orang jenius dan penuh dengan semangat.

Sang kelima, sang penambang ilmu. Yang melahirkan 2 orang pembelajar tangguh dan ceria.

Sang keenam, sang insinyur ceria. Yang melahirkan 2 orang penempa kebahagiaan.

Sang ketujuh, sang tabib nganyom. Yang tiada pernah meninggalkan dan selalu menjaga 14 para pewaris putra-putri Lawu.

Sang mahaguru dan Nyai tidak lagi perlu khawatir sekarang. Lambat laun, para putra-putri Lawu menjadi wangsa dinasti dan klan. Mengembang dan semakin membesar, tidak terbendung. Pejuang Merbabu tertua sudah bertemu seorang putri Merbabu, salah satu langkah awal para penerus putra-putri Lawu. Lalu apalagi yang perlu ditakuti? Sang mahaguru dan Nyai tidak perlu takut, karena kehidupan yang lampau sudah banyak berbeda. Tapi satu yang tidak berbeda, kasih dan teladan mereka selalu membekas. Menjadi pedoman bagi para pengikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.