Digital Sosialishit, Friendcheap

Saya sangat suka dengan gambar-gambar di bawah ini. Saya bukan seorang yang anti-sosial, itu yang harus digaris bawahi. Memang saya terbatas dalam jejaring sosial. Tidak seperti adik-adik saya yang masih muda dan teman-teman saya yang mempunyai Facebook, Twitter, Path, Snapchat, dan lain sebagainya. Setidaknya saya memiliki akun blog, Instagram, Kaskus, dan LinkedIn yang mengindikasikan bahwa saya ada di dunia maya. Minimal untuk mencari pekerjaan, menulis, proyek pribadi, mencari insipirasi, dan menggambar. Terlepas dari yang disebut dengan kata eksis.

Sahabat Digital

Do I hate Zuckenberg’s handmade and the other things? No I don’t, dan itu juga yang perlu saya beri garis tebal. Banyak orang memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dengan keluarga dan teman, mencari teman baru, dan mendapatkan informasi. Banyak juga yang menggunakannya untuk bergaul dan menemukan komunitas. Katanya tidak gaul dan tidak update jika tidak punya. Jadi apakah saya sendiri adalah seorang yang tidak ingin bergaul? Tidak ingin tahu kabar teman dan keluarga? Tidak suka mendapatkan informasi? Terbelakang?

Kadang saya menyebut button post itu adalah button “need attention”. Do they really care? Tell ’em if I need their attention.

Seseorang sakit dan bahkan mungkin hanya karena bosan menuliskan pesan di jejaring sosial. Banyak yang mengucapkan “Get well soon” dan bahkan ada yang memberikan like. Just it. Saya sakit dan bosan lalu diberikan like? Tersanjung masih ada yang perhatian? Bangga? Epenka? Semudah itu menilai solidaritas. In the another case, memiliki masalah dengan seseorang. Lalu dengan sigap mengetikan ungkapan di kolom textarea dan setelah melalui proses penyuntingan langsung klik button post. Sent not until 5 seconds, depends on your data network.

Lega mungkin setelah melakukannya. Tapi apakah tersadar Pak Pos virtual dengan cepat mengirim pesan seperti paket kilat tanpa pengecekan ulang. Jika viral, seperti loper naik sepeda balap melempar koran di setiap halaman news feed sahabat digital secara membabi buta. Tanpa peduli apakah sudah terklarifikasi, berdasarkan fakta atau opini, tepat sasaran atau belum. Seberapa peka dengan sekitar? Membuka halaman home, saya baca si Mas Kardiman sesama alumni sekarang sudah jadi manager di perusahannya. Langsung berkomentar dengan sahabat-sahabatnya. Bertemu dengan beliau di pernikahan rekan hanya sekedar sapa ala kadarnya lalu diam beribu bahasa karena topik sudah habis di kolom komentar. Direct message “Eh lama tidak bertemu. Kopdar yuk“, balasnya “Oke deh, di burjo ya biar seperti dulu jaman SMA” Bertemulah kedua orang sahabat itu.

Esensi Media Sosial?

Semurah itukah berkomunikasi? Antara dua orang yang duduk bersama dalam satu meja makan terhubung melalui layar LCD berukuran 4 – 5″. Connected, wireless. Ketika hanya berjarak kurang lebih 1 meter, berbagi foto kopdar dan saling tag nama serta lokasi di pesan singkat 140 karakter. Sangat ceria ketika mendapatkan retweet, like, heart, komentar, dan berbagai respon. Minuman hangat pun menjadi dingin, ketika dua orang bersahabat yang dulu dapat bercerita secara intim sekarang saling melempar senyum emoji bekerja sama menanggap respon.

Ehm, jadi esensi bersosialisasi di media sosial itu seperti apa? Saya tidak menemukannya. Apakah seperti “Cielah, ada friend request nih” lalu dengan tangkas menyetujui pertemanan tersebut. Sekedar menanyakan nama, umur, tempat tinggal. Saya teringat dengan film Closer di mana si wanita mengatakan “Hello, Stranger“. Ketika ingin bertatap langsung dan bertemu, justru menjadi semakin berat hati dan enggan untuk melakukannya. Mendekatkan yang jauh? Menjauhkan yang dekat! Berbagi cerita suka duka dan pikiran dengan sahabat digital yang tidak dikenal. Tetapi sungkan untuk bercengkrama dengan kawan, adik, dan kakak yang berdiri di sebelah. Jadi teringat pesan orang tua “Hati-hati dengan orang asing dan baru saja dikenal

Kembali ke pertanyaan skeptis tentang diri saya sendiri. Jadi apakah saya sendiri adalah seorang yang tidak ingin bergaul? Tidak ingin tahu kabar teman dan keluarga? Tidak suka mendapatkan informasi? Terbelakang? Lebih tepatnya saya orang yang tidak peduli dengan sosial media. Tidak peduli bukan berarti membenci. Saya lebih seperti “biarlah mereka mencandu, saya tidak berada di sana dan bukan seperti itu“. Kepedulian saya hanya berdasarkan keinginan saya untuk mengetahui jika memang hak saya dan jika diperbolehkan oleh yang bersangkutan serta berbagi apa yang seharusnya saya bagikan. Saya tidak wajib bahkan harus terpaksa mengetahui dan membagikan semuanya. Sama sekali tidak menyalahkan mereka yang memiliki media sosial, sama seperti agama yang adalah candu (Karl Max). Jejaring sosial hanyalah gaya hidup.

Here I am. They will talk to me directly if they must. I love to walk into their home when I need and when they need, then talk to them wisely. Ask how’s their life and talk only with the right person. We sit down then tell our own story. Cry and laugh. Filled by arguments and real comments. Together and between a line with a real conversation.

Seringkali ketika tidak menemukan orang yang tepat maka berceloteh di media sosial, sebetulnya karena merasa tidak akan ada yang mendengar maka ingin dibaca. Over reacted. Saya lebih suka untuk menemui orang yang tepat untuk mengutarakan dan mendengar dari yang dipercaya serta berkapasitas (berkualitas) untuk menanggapi. Karena belum tentu saya dan kisah saya benar-benar untuk didengar, ingin diketahui, bahkan pantas untuk dikonsumsi oleh ‘netizen’. Beda kepala beda sikap. Sikap saya untuk tidak peduli dengan gambar serta pameran cerita yang harus dibaca dan dilihat karena seringkali muncul opini yang jauh dari fakta, seringkali menimbulkan kesalahpahaman. Inilah bentuk kepedulian saya, dengan memfilter apa yang akan saya bagikan dan ingin saya ketahui. Untuk melindungi privasi masing-masing. Karena yang dibagikan di internet dapat menjadi permanen, khususnya karena teknologi screen capture. Tidak hanya jaga mulut, juga jaga jari jemari. Keduanya digerakan oleh isi kepala manusia.

Berinteraksi dengan kadar secukupnya di dunia maya, berinteraksi penuh kehangantan di dunia nyata.

Tidak Kurang, Tidak Lebih

Teman dan keluarga bagi saya tidak semurah berbagi jempol dan kolom komentar. Mereka bukan tulisan di layar yang dapat saya scroll up dan ke bawah lalu hilang. Stalking? Curiga? Bertanya langsung karena kita bukan buronan, supaya tidaklah muncul salah sangka.

Era digital sosialishit. Rekan kantor mempertanyakan alasan saya mendeaktivasi Facebook. Apakah trauma? Ya kembali lagi, karena saya tidak peduli dengan hologram. At there, a lot of bullshit between us. Surrounded by ‘friends’ with their ‘what is in your mind’ which you don’t really need to know. I challenge my self to choose real social. A real social that link us. I’ve no place for those things and they who aren’t deserve. Anyway saya punya blog bukan untuk memiliki dan menambah teman kalaupun iya itu adalah bonus. Apakah memiliki diary dan saling menukarnya adalah ditujukan untuk menambah teman – berbagi privasi? Itulah menurut saya betapa bermanfaatnya akal budi untuk memfilter segala sesuatu.

Saya bukan seseorang yang anti produk Yahudi ataupun pengambil kesimpulan teori konspirasi. Saya tidak peduli karena saya tidak merasa itu benar. Aksi Zionis yang menjadi hipotesa masyarakat kolot tentang platform jejaring, saya menyikapinya dengan masa bodoh. Buat saya media sosial membuatnya menjadi bias dan membingungkan. Semua adalah teman, sebagian dari mereka entahlah, harus bagaimana? Takut dicerca karena membuat gap sedangkan tidak semua berhak masuk dengan kategori sahabat. Saya tahu benar, mana yang teman dan mana yang sekedar kenal-tahu-pernah lihat dan mana yang hasil dari ‘blind date‘. Tanpa media sosial, semuanya nyata dan jelas. Saya jelas tidak berbagi kasur dengan outsider. Saya bukan ‘kepo-man‘ atau anggota ‘stalker-elite‘, yang tidak mampu mengontrol rasa ingin tahu lalu membuat pendapat liar. Ini justru lebih ke arah esensi dan kehidupan media sosial itu sendiri. Kehidupan sosial teman dan keluarga yang berkualitas baik buat saya idealnya seperti kutipan

Mari duduk, kamu mau apa? Coklat, kopi, atau teh hangat? Kita mendengar dan berujar, biarkanlah mata beristirahat sejenak. Bertanya kabar tanpa perlu dibubuhi. Indahnya hidup yang nyata – Real Social.

One thought on “Digital Sosialishit, Friendcheap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.